![]() |
| Kepala BNN RI Suyudi Ario Seto memaparkan program nasional “Ananda Bersinar” sebagai strategi preventif melindungi generasi muda dari bahaya narkotika. |
Jakarta, MP----- Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) RI Suyudi Ario Seto menegaskan bahwa ancaman narkotika di Indonesia telah berkembang menjadi persoalan keamanan nasional yang bersifat multidimensi dan harus ditangani melalui langkah strategis lintas sektor.
![]() |
| Kepala BNN RI Suyudi Ario Seto berfoto bersama peserta didik Sespimti usai pembekalan strategi nasional pemberantasan narkotika di Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian, Selasa (26/5/2026). |
Penegasan tersebut disampaikan saat memberikan pembekalan kepada peserta didik Sekolah Staf dan Pimpinan Tinggi (Sespimti) di Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian, Jakarta Selatan, Selasa (26/5/2026).
Dalam paparannya, Kepala BNN RI menyebut penyalahgunaan dan peredaran gelap narkotika tidak lagi sekadar menjadi persoalan kesehatan masyarakat, tetapi juga ancaman serius terhadap ketahanan bangsa dan masa depan generasi muda Indonesia.
“Narkotika bukan hanya masalah kesehatan, tetapi juga masalah keamanan dan ketahanan bangsa, yang dalam konteks tertentu dapat menjadi instrumen perang asimetris,” tegas Suyudi Ario Seto.
Ia mengingatkan bahwa Indonesia tengah menghadapi tantangan besar dalam menjaga bonus demografi agar tidak berubah menjadi bencana sosial akibat tingginya angka penyalahgunaan narkotika di kalangan generasi muda.
Berdasarkan hasil survei nasional kolaboratif antara Badan Narkotika Nasional, Badan Riset dan Inovasi Nasional, dan Badan Pusat Statistik periode 2023–2025, prevalensi penyalahgunaan narkotika di Indonesia mencapai 2,11 persen atau sekitar 4,15 juta jiwa. Kelompok usia 15 hingga 24 tahun tercatat menjadi kelompok paling rentan terhadap penyalahgunaan narkotika.
Data tersebut menunjukkan bahwa generasi muda masih menjadi target utama jaringan sindikat narkotika yang terus berkembang dengan pola dan modus semakin kompleks.
Sebagai upaya strategis menghadapi ancaman tersebut, BNN memperkenalkan Gerakan Nasional “Ananda Bersinar” atau Aksi Nasional Anti Narkotika Dimulai dari Anak Bersih Narkotika. Program tersebut mengedepankan pendekatan preventif, edukatif, humanis, dan kolaboratif melalui penguatan peran keluarga, sekolah, kampus, desa, hingga komunitas masyarakat.
Menurut Kepala BNN RI, keberhasilan perang melawan narkotika tidak hanya diukur dari banyaknya operasi penindakan atau jumlah pelaku yang dipenjara, melainkan juga dari kuatnya ketahanan sosial masyarakat.
“Ketahanan nasional tidak hanya dibangun dari jumlah operasi dan banyaknya pelaku yang dipenjara, tetapi juga dari kuatnya keluarga, sehatnya sekolah, amannya kampus, tangguhnya desa, serta hadirnya negara dalam membentuk karakter generasi muda,” ujarnya.
Menutup pembekalan, Suyudi Ario Seto mengajak para peserta didik Sespimti sebagai calon pimpinan tinggi Polri untuk memperkuat integritas, kepemimpinan, dan kolaborasi lintas sektor dalam menghadapi ancaman narkotika yang dinilai semakin kompleks dan terorganisasi.
(Ns/red)

