-->

Notification

×

Iklan

Iklan Display

Wakapolres Pessel Bicara Tantangan Moral di Era Digital

Rabu, 20 Mei 2026 | Mei 20, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-05-20T14:21:30Z

Suasana hangat penuh keakraban mewarnai diskusi Wakapolres Pessel Kompol Syafrizen bersama insan pers terkait tantangan era digitalisasi.



Di  derasnya arus digitalisasi yang terus mengubah pola hidup masyarakat, percakapan santai di ruang kerja Wakapolres Pesisir Selatan menghadirkan pesan yang sederhana namun sarat makna, teknologi harus diimbangi dengan kekuatan iman,tengah integritas, dan tanggung jawab moral.


Pesisir Selatan, MP----- Suasana hangat dan penuh keakraban terasa di ruang kerja Wakil Kepala Kepolisian Resor Pesisir Selatan, Kompol Syafrizen, Rabu (20/5/2026). Dalam perbincangan santai bersama sejumlah jurnalis, perwira menengah Polri itu tidak hanya berbicara soal keamanan dan ketertiban masyarakat, tetapi juga menyoroti tantangan besar yang sedang dihadapi bangsa di era digitalisasi global.


Dengan gaya bicara tenang dan penuh refleksi, Kompol Syafrizen mengingatkan bahwa perkembangan teknologi sejatinya telah diprediksi sejak puluhan tahun lalu. Menurutnya, bangsa Indonesia sejak era Presiden Soeharto telah diingatkan untuk mempersiapkan sumber daya manusia yang mampu menghadapi perubahan zaman dan derasnya arus globalisasi.


“Perkembangan teknologi hari ini sangat luar biasa. Digitalisasi memberi banyak kemudahan, tetapi juga menghadirkan tantangan yang tidak ringan bagi kehidupan sosial masyarakat,” ujarnya di sela perbincangan bersama awak media.


Ia menilai, kecanggihan teknologi dapat menjadi alat yang membawa manfaat besar apabila digunakan secara bijak. Namun di sisi lain, teknologi juga bisa menyeret manusia pada krisis moral apabila tidak dibarengi dengan pondasi keimanan yang kuat.


Menurutnya, orang-orang yang memiliki iman dan ketakwaan akan lebih siap menghadapi perubahan zaman. Mereka mampu mengendalikan diri di tengah derasnya pengaruh negatif media digital, informasi tanpa batas, hingga perubahan pola interaksi sosial yang semakin kompleks.


“Beruntunglah orang yang beriman dan bertakwa kepada Allah SWT. Di era digitalisasi ini tantangannya sangat besar, banyak hal yang bisa menjerumuskan seseorang ke jalan yang salah. Tetapi orang yang terus memperkuat imannya akan mampu memilih jalan yang benar,” ungkapnya.


Percakapan yang berlangsung dalam suasana santai itu juga berkembang pada pembahasan mengenai peran pers di tengah derasnya arus informasi digital. Kompol Syafrizen menekankan bahwa jurnalis memiliki posisi strategis dalam menjaga kualitas informasi publik dan membangun kesadaran masyarakat.


Ia mengingatkan pentingnya insan pers untuk tetap menjunjung tinggi profesionalisme, kode etik jurnalistik, serta memedomani Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers. Dalam pandangannya, media memiliki tanggung jawab besar untuk menghadirkan informasi yang mencerdaskan, menenangkan, dan memberi dampak positif bagi kehidupan sosial masyarakat.


“Jadilah jurnalis yang beriman dan jujur dalam menjalankan profesi. Ketika wartawan memegang teguh kode etik dan aturan profesi, maka karya jurnalistik yang lahir akan memberi manfaat besar bagi masyarakat,” pesannya.


Di tengah obrolan ringan yang diselingi tawa dan diskusi hangat, tampak hubungan kemitraan yang cair antara kepolisian dan insan pers. Tidak sekadar membahas tugas kelembagaan, pertemuan itu juga memperlihatkan pentingnya membangun komunikasi yang humanis antara aparat penegak hukum dan media sebagai dua elemen penting dalam menjaga stabilitas sosial di tengah masyarakat.


Bagi Kompol Syafrizen, keamanan bukan hanya soal penegakan hukum, tetapi juga tentang membangun kesadaran moral, memperkuat nilai kemanusiaan, dan menjaga ruang publik tetap sehat melalui informasi yang bertanggung jawab. Dalam era ketika teknologi berkembang begitu cepat, pesan sederhana itu menjadi pengingat bahwa kemajuan bangsa tetap bergantung pada kualitas karakter manusianya.

(Rajo.A/MT/red)

×
Berita Terbaru Update