-->

Notification

×

Iklan

Iklan Display

Mahyeldi: Kerusakan Lingkungan Telan Kerugian Rp33 Triliun, Pemulihan Tak Bisa Ditunda

Jumat, 12 Juni 2026 | Juni 12, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-06-12T14:40:17Z
Gubernur Sumbar Mahyeldi Ansharullah menanam bibit pohon di kawasan Hutan Kota Malvinas, Kota Padang, sebagai bagian dari upaya rehabilitasi lingkungan pascabanjir.


Padang, MP----- Bencana banjir dan longsor yang melanda berbagai wilayah Sumatera Barat dalam beberapa waktu terakhir meninggalkan pelajaran mahal tentang pentingnya menjaga keseimbangan alam. Kerusakan lingkungan yang selama ini kerap dianggap persoalan jangka panjang kini terbukti menghadirkan dampak nyata, mulai dari hilangnya kawasan hijau, rusaknya infrastruktur, hingga kerugian ekonomi yang mencapai puluhan triliun rupiah.


Kesadaran itulah yang menjadi landasan Pemerintah Provinsi Sumatera Barat untuk memperkuat gerakan rehabilitasi lingkungan. Salah satu langkah konkret ditunjukkan melalui aksi penanaman 1.000 pohon di kawasan Hutan Kota Malvinas, sempadan Sungai Batang Kuranji, Kota Padang, Jumat (12/6/2026), dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia sekaligus memulihkan kawasan yang terdampak banjir besar akhir tahun lalu.


Memimpin langsung kegiatan tersebut, Gubernur Sumatera Barat, Mahyeldi Ansharullah, menegaskan bahwa upaya pemulihan lingkungan tidak lagi dapat ditunda. Menurutnya, perubahan iklim dan kerusakan ekosistem telah menjadi ancaman nyata yang memengaruhi keselamatan dan kualitas hidup masyarakat.


“Tidak boleh ditunggu lagi. Kita harus bertindak sekarang untuk pengendalian iklim karena ini menyangkut keberlangsungan hidup manusia itu sendiri,” tegas Mahyeldi di hadapan ratusan peserta yang hadir.


Bagi Mahyeldi, penanaman pohon bukan sekadar kegiatan seremonial tahunan. Lebih dari itu, gerakan tersebut merupakan bagian dari upaya membangun budaya peduli lingkungan yang harus diwariskan kepada generasi muda.


Ia menilai kepedulian terhadap lingkungan harus menjadi karakter sosial masyarakat Sumatera Barat. Mulai dari pengelolaan sampah, penghijauan kawasan kritis, hingga menjaga kelestarian pohon dan sumber daya alam yang menjadi penyangga kehidupan.


“Ini bukan sekadar memperingati Hari Lingkungan Hidup. Kita ingin membangun kepedulian terhadap lingkungan, menjaga dan merawat pohon, serta menanamkan nilai-nilai pelestarian alam kepada generasi muda,” ujarnya.


Alarm dari Alam


Mahyeldi mengingatkan bahwa masyarakat telah merasakan langsung dampak ketika lingkungan kehilangan daya dukungnya. Banjir bandang, longsor, dan sedimentasi sungai menjadi bukti bahwa kerusakan ekosistem tidak pernah datang tanpa konsekuensi.


Menurutnya, kondisi Sungai Batang Kuranji saat ini menjadi salah satu contoh nyata. Pasca-bencana, sungai mengalami pendangkalan akibat tingginya sedimentasi yang terbawa arus dari daerah hulu.


Apabila tidak segera ditangani, kapasitas sungai menampung debit air akan terus berkurang dan meningkatkan risiko banjir pada musim hujan berikutnya.


“Ketika lingkungan terganggu dan rusak, maka inilah hasilnya. Sungai mengalami pendangkalan, banjir semakin mudah terjadi, dan ancaman longsor terus meningkat,” katanya.


Gubernur juga mengaku prihatin setelah mengetahui banyak pohon di kawasan Hutan Kota Malvinas mati akibat terjangan banjir. Kawasan yang sebelumnya dikenal hijau dan menjadi ruang terbuka bagi masyarakat itu kini membutuhkan proses rehabilitasi yang tidak singkat.


“Banjir tidak hanya memakan korban manusia. Banyak tumbuhan mati dan keseimbangan lingkungan ikut terganggu. Ini menjadi peringatan bagi kita semua,” ungkapnya.


Kerugian Fantastis Rp33 Triliun


Di tengah upaya pemulihan, Mahyeldi mengungkap fakta yang mencerminkan besarnya dampak bencana terhadap daerah. Berdasarkan estimasi pemerintah, total kerugian dan kerusakan akibat banjir dan longsor di Sumatera Barat mencapai sekitar Rp33 triliun.


Nilai tersebut jauh melampaui kemampuan fiskal daerah untuk melakukan pemulihan secara cepat dan menyeluruh.


“Kerusakan dan kerugian akibat banjir longsor tidak kurang dari Rp33 triliun. Nilainya setara beberapa kali kemampuan anggaran daerah. Ini menunjukkan bahwa menjaga lingkungan jauh lebih murah daripada memperbaiki kerusakan yang terjadi,” tegasnya.


Pernyataan tersebut menjadi pesan penting bahwa investasi terbesar dalam pembangunan tidak hanya berupa infrastruktur fisik, tetapi juga perlindungan terhadap ekosistem yang menopang kehidupan masyarakat.


Karena itu, Mahyeldi meminta seluruh pihak menjaga kawasan sempadan sungai yang telah dibebaskan agar tidak kembali dipadati bangunan dan permukiman yang berpotensi meningkatkan risiko bencana.


Kolaborasi untuk Pemulihan


Kegiatan penanaman pohon yang diprakarsai Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi Sumatera Barat melibatkan sekitar 250 peserta dari berbagai unsur, mulai dari organisasi perangkat daerah, instansi vertikal, BUMN, BUMD, perusahaan swasta, perguruan tinggi, komunitas lingkungan, organisasi masyarakat, hingga pelajar.


Sebanyak 1.000 bibit pohon ditanam untuk menggantikan vegetasi yang rusak akibat banjir yang sempat merendam kawasan tersebut hingga ketinggian sekitar dua meter.


Bibit pohon berasal dari berbagai mitra yang mendukung program rehabilitasi lingkungan, di antaranya BPDAS Agam Kuantan, Dinas Kehutanan Sumbar, PT Semen Padang, PT Incasi Raya Group, PT Pertamina Patra Niaga, PLN UID Sumbar, PLN PLTU Teluk Sirih, PTPN IV Regional 4, PT Supreme Energy Muara Laboh, serta sejumlah perusahaan lainnya.


Kepala DLH Sumbar menegaskan bahwa keterlibatan banyak pihak menjadi bukti bahwa isu lingkungan bukan semata tanggung jawab pemerintah, melainkan agenda bersama yang membutuhkan partisipasi seluruh elemen masyarakat.


Menuju Green Forest City


Harapan besar terhadap masa depan kawasan Hutan Kota Malvinas disampaikan Ketua Pokdarwis Kota Padang, Renaldo Saputra Leo. Ia berharap gerakan penghijauan tersebut menjadi awal dari kolaborasi jangka panjang dalam membangun kawasan yang lebih lestari dan produktif.


Menurutnya, Hutan Kota Malvinas memiliki potensi besar untuk berkembang menjadi ruang hijau perkotaan yang tidak hanya berfungsi menjaga keseimbangan ekologi, tetapi juga memberikan manfaat sosial dan ekonomi bagi masyarakat.


“Harapan kami kegiatan ini tidak berhenti sebagai seremoni tahunan. Kami ingin Hutan Kota Malvinas berkembang menjadi Green Forest City yang memberi manfaat ekologis sekaligus ekonomi bagi masyarakat,” ujarnya.


Di tengah ancaman perubahan iklim yang semakin nyata, aksi penanaman 1.000 pohon di tepian Batang Kuranji menjadi simbol bahwa pemulihan lingkungan harus dimulai dari langkah-langkah konkret. Sebab, menjaga alam bukan sekadar urusan konservasi, melainkan investasi jangka panjang untuk keselamatan generasi mendatang.

(Sb/MP)

×
Berita Terbaru Update