Painan, Kabupaten Pesisir Selatan, 20 Juni 2026. "Wahai Abu Dzar, sesungguhnya engkau adalah orang yang lemah, dan jabatan itu adalah amanah. Pada hari kiamat kelak, ia akan menjadi kehinaan dan penyesalan, kecuali bagi orang yang mengambilnya dengan hak dan menunaikan kewajiban di dalamnya." (HR. Muslim)
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,
Segala puji bagi Allah SWT, Tuhan semesta alam, yang masih memberikan kita napas kehidupan dan kesempatan untuk mengabdi di bumi-Nya. Shalawat beserta salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita, Nabi Besar Muhammad SAW, sosok pemimpin agung yang syafaatnya paling kita harapkan di hari akhir kelak, serta di alam kubur yang sunyi.
Sebagai sesama muslim yang hari ini barangkali sedang diamanahi sebuah tanggung jawab—baik di dunia birokrasi, penegakan hukum, organisasi, maupun ruang publik—kita sering kali memandang jabatan sebagai sebuah capaian prestasi. Namun, di balik kemilau fasilitas duniawi, ada pertanggungjawaban yang maha berat. Al-Qur’an dan Hadis telah memberikan rambu-rambu yang sangat terperinci agar kita, para pemimpin, tidak tergelincir ke dalam dosa besar yang dapat menjerumuskan diri ke dalam neraka jahanam.
Berikut adalah saripati tuntunan syariat yang saya rangkum sebagai nasehat untuk diri saya pribadi dan kompas bagi kita semua, agar karier kepemimpinan kita berkah, selamat di alam barzakh, dan berujung pada syafaat Rasulullah SAW.
1. Menjaga Integritas: Perang Total Terhadap Korupsi, Suap, dan Gratifikasi
Dosa paling klasik namun paling mematikan dalam karier kepemimpinan adalah penyalahgunaan wewenang demi materi. Islam menutup rapat semua celah ini tanpa toleransi:
Menolak Suap (Risywah): Hukum Allah sangat tegas. Rasulullah SAW melaknat tindakan suap-menyuap, baik dalam dunia profesional, bisnis, maupun penegakan hukum.
"Rasulullah SAW melaknat orang yang menyuap dan yang menerima suap." (HR. Abu Dawud)
Waspada Terhadap Gratifikasi (Hadiah Jabatan): Kita harus berani menolak pemberian yang datang karena jabatan yang kita pangku. Di luar jam kerja atau formalitas, hadiah semacam itu sejatinya adalah bentuk khianat yang terselubung.
"Hadiah bagi para pejabat/pekerja adalah ghulul (penggelapan/harta haram)." (HR. Ahmad)
Ancaman Konkrit Al-Qur'an: Allah SWT mengingatkan kita untuk tidak memanipulasi hukum demi memakan harta sesama secara batil:
"Dan janganlah kamu makan harta di antara kamu dengan jalan yang batil, dan (janganlah) kamu menyuap dengan harta itu kepada para hakim dengan maksud agar kamu dapat memakan sebagian harta orang lain itu dengan jalan dosa, padahal kamu mengetahui." (QS. Al-Baqarah: 188)
2. Menghindari Kezaliman (Zhulm) dan Sikap Menutup Diri
Sebagai pemimpin, ego terbesar kita adalah ketika merasa lebih tinggi dari orang-orang yang kita pimpin. Ingatlah, doa orang yang dizalimi tidak memiliki sekat pembatas dengan arsy Allah.
Kezaliman Adalah Kegelapan: Setiap keputusan yang tidak adil atau menindas bawahan akan menjelma menjadi kegelapan yang menyiksa kita di alam kubur dan hari kiamat.
"Takutlah kalian akan kezaliman, karena kezaliman adalah kegelapan pada hari kiamat." (HR. Muslim)
Jangan Menutup Pintu dari Keluhan Umat: Jika kita enggan mendengar keluhan, menutup diri dari hajat masyarakat atau bawahan, Allah akan memperlakukan kita dengan cara yang sama di akhirat.
"Siapa saja yang diserahi oleh Allah mengatur urusan kaum muslimin, lalu dia menutup diri dari memenuhi kebutuhan, hajat, dan kefakiran mereka, maka Allah akan menutup diri dari memenuhi kebutuhannya, hajatnya, dan kefakirannya pada hari kiamat." (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)
Doa Buruk Rasulullah SAW: Sungguh celaka jika seorang pemimpin mendapatkan doa buruk langsung dari lisan suci Nabi kita:
"Ya Allah, siapa yang mengemban tugas mengurusi umatku kemudian ia mempersulit mereka, maka persulitlah dia..." (HR. Muslim)
3. Berbuat Adil Tanpa Memandang Bulu ('Adl)
Di dunia profesional dan hukum, kita sering kali diuji oleh relasi pertemanan, keluarga, kesukuan, atau kepentingan politik untuk bersikap subjektif. Namun, keadilan dalam Islam bersifat mutlak.
Keadilan yang Melampaui Kebencian: Al-Qur'an memerintahkan kita tetap tegak lurus, bahkan kepada pihak yang tidak kita sukai sekalipun.
"...Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlakulah adil, karena (adil) itu lebih dekat kepada takwa..." (QS. Al-Ma'idah: 8)
Peringatan Tiga Golongan Hakim/Pemimpin: Dari tiga jenis pemimpin atau pengambil keputusan, dua di antaranya ditekankan akan masuk ke dalam neraka jika memimpin di atas kebodohan atau sengaja menyimpang dari kebenaran hukum (HR. Abu Dawud).
4. Transparansi dan Menolak Khianat
Menipu rakyat atau bawahan—baik lewat manipulasi data, kebijakan yang menjebak, atau retorika palsu—adalah tiket instan menuju kebinasaan.
Diharamkan Bau Surga: Peringatan dari Rasulullah SAW ini semestinya membuat bulu kuduk kita meremang:
"Tidaklah seorang hamba diserahi oleh Allah untuk memimpin suatu kaum, lalu ia mati pada hari ia mati dalam keadaan menipu (mengkhianati) kaumnya, melainkan Allah haramkan surga baginya." (HR. Bukhari dan Muslim)
Tiga Benteng Strategis Pemimpin Muslim
Agar kita tidak sekadar membaca teori, melainkan mampu selamat di dunia, tenang di alam kubur, dan layak mendapatkan syafaat Rasulullah SAW, mari kita bangun tiga benteng praktis ini:
Cari Lingkungan Terbaik (Bithanah Shalihah): Kelilingi diri kita dengan penasihat, staf, dan sahabat yang jujur. Carilah orang-orang yang berani menegur kita saat kita salah, bukan para pemuji yang membenarkan setiap kekeliruan kita.
Tahu Diri dan Ukur Kemampuan: Jangan ambisius mengejar jabatan jika kita tahu kapasitas spiritual dan intelektual kita belum memadai. Jabatan bukan mainan.
Hidupkan Rasa Takut (Khauf) Kepada Allah: Setiap kali kita memegang pena untuk menandatangani sebuah kebijakan, memutus perkara hukum, memutasi pegawai, atau mencairkan anggaran, bayangkan bahwa tindakan itu sedang dicatat dan akan diputar kembali di hadapan Mahkamah Allah SWT, di mana tak ada pengacara yang bisa membela kita selain amal shalih.
Penutup
Teman sejawat kaum muslimin yang saya hormati, kekuasaan di dunia ini paling lama hanya berkisar belasan atau puluhan tahun. Namun, dampaknya di alam kubur dan akhirat bersifat abadi.
Mari kita saling mendoakan dan saling mengingatkan dalam kebenaran dan kesabaran. Semoga Allah SWT menjaga hati kita agar tetap istiqamah, menjadikan jabatan kita sebagai ladang ibadah, menyelamatkan kita dari himpitan siksa kubur, dan mempertemukan kita semua di telaga Al-Kautsar untuk menerima syafaat dari kekasih kita, Nabi Muhammad SAW.
Nasrun minallahi wa fathun qarib.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
