-->

Notification

×

Iklan

Iklan Display

Perantau Minang di Belanda Dukung MUBES FDSB 2026, Dorong Kolaborasi Global Bangun Sumbar

Selasa, 16 Juni 2026 | Juni 16, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-06-16T03:41:23Z
Dr. Surya Suryadi, Lecturer at Leiden University Institute for Area Studies.


Padang, MP----- Dukungan terhadap pelaksanaan Musyawarah Besar (MUBES) Forum Dinamika Sumatera Barat (FDSB) 2026 terus mengalir, termasuk dari komunitas perantau Minang di luar negeri. Kali ini, dukungan datang dari Leiden, Belanda, melalui akademisi asal Minangkabau, Dr. Surya Suryadi, yang menyambut positif agenda besar tersebut sebagai momentum memperkuat sinergi antara ranah dan rantau.


Dukungan itu disampaikan Dr. Surya Suryadi, dosen di Leiden University Institute for Area Studies, melalui pernyataan tertulis yang diterima awak media di Padang, Senin (15/6/2026). Ia menilai MUBES FDSB 2026 yang dijadwalkan berlangsung di Kota Padang pada 12 September mendatang memiliki nilai strategis dalam memperkuat partisipasi perantau untuk pembangunan daerah.


Menurutnya, FDSB harus mampu berperan sebagai fasilitator yang menyatukan berbagai ide, gagasan, dan potensi besar masyarakat Minangkabau yang tersebar di berbagai belahan dunia.


“FDSB harus menjadi fasilitator yang menyatukan berbagai ide dan gagasan, khususnya dari para perantau,” ujar Surya Suryadi.


Ia juga menekankan pentingnya membangun struktur organisasi yang lengkap dan representatif agar forum tersebut dapat berjalan optimal dan mampu menjawab kebutuhan masyarakat Minang, baik yang berada di kampung halaman maupun di perantauan.


“MUBES ini momentum penting. Saya berharap FDSB dapat memfasilitasinya dengan baik agar semua elemen, termasuk perantau, bisa bersinergi untuk Sumbar,” tambahnya.


Sementara itu, Pendiri Utama Forum Dinamika Sumatera Barat (FDSB) dan Forum Dinamika Indonesia (FDI), Nof Hendra, menyambut baik dukungan yang datang dari Negeri Kincir Angin tersebut. Ia menilai keterlibatan perantau internasional menjadi modal sosial yang sangat berharga bagi kemajuan Sumatera Barat.


Menurut Nof Hendra, Sumatera Barat membutuhkan kontribusi nyata dari seluruh elemen masyarakat Minang, terutama dari para perantau yang telah memiliki pengalaman, jaringan, serta kapasitas di berbagai bidang.


“Kita sangat membutuhkan masukan dan saran dari para perantau dalam dan luar negeri untuk membangun Sumatera Barat yang lebih baik. Pengalaman, jejaring, dan investasi sosial dunsanak di rantau adalah modal besar bagi Sumbar,” katanya.


Ia menegaskan, MUBES FDSB 2026 bukan sekadar agenda organisasi ataupun forum pemilihan kepengurusan semata. Lebih dari itu, MUBES diharapkan menjadi ruang bersama untuk merumuskan arah pembangunan Sumatera Barat yang berkelanjutan dan berbasis kolaborasi global.


“Ini adalah rumah gadang bersama tempat dunsanak sedunia merancang masa depan Sumbar. Dari Leiden sampai Limapuluh Kota, suara dunsanak harus sampai ke meja MUBES,” tegas Nof Hendra.


Ia juga mengajak seluruh masyarakat Minangkabau bergerak cepat, terarah, dan terukur dalam menyukseskan agenda tersebut. Menurutnya, pembangunan daerah membutuhkan aksi nyata, bukan sekadar diskusi dan wacana.


“Yang dibutuhkan saat ini adalah aksi nyata. Jangan menunggu semuanya sempurna baru bergerak. Jadilah penggerak awal. Sejarah tidak mencatat orang yang diam. Sejarah mencatat mereka yang bergerak dan berjuang,” ujarnya.


Dalam kesempatan itu, Nof Hendra turut menyoroti gerakan Donasi Rp5.000 yang telah disosialisasikan melalui media daring mitra grup komunikasi FDSB. Ia menilai gerakan sederhana tersebut menjadi simbol semangat gotong royong masyarakat Minang untuk membangun kampung halaman secara bersama-sama.


Ia juga mengingatkan bahwa tantangan utama pembangunan daerah bukanlah perbedaan di antara sesama masyarakat, melainkan persoalan kemalasan, kemiskinan, ketidakadilan, serta melemahnya semangat persatuan.


“Peribahasa Minang saciok bak ayam, sadanciang bak basi, ringan samo dijinjiang, barek samo dipikua harus menjadi filosofi bersama menghadapi hajat besar MUBES FDSB 2026,” katanya.


Nof Hendra selanjutnya mengajak seluruh elemen masyarakat, mulai dari perantau, akademisi, pengusaha, praktisi hukum, TNI-Polri, petani, nelayan, pedagang, insan pers, hingga generasi muda di berbagai profesi untuk bersama-sama mendukung dan mendoakan kelancaran MUBES FDSB 2026.


Ia meyakini, kemajuan Sumatera Barat hanya dapat terwujud apabila masyarakat di ranah dan rantau mampu memperkuat persatuan dan berpartisipasi aktif dalam pembangunan berbasis nagari.


“Harus kita buktikan kepada dunia bahwa orang Minang kompak di ranah dan di rantau. Sumbar akan maju bila masyarakatnya sejahtera. Masyarakat akan sejahtera bila mau berpartisipasi aktif mendukung pembangunan berbasis nagari di segala bidang,” tutupnya.


FDSB sendiri merupakan wadah silaturahmi, kajian, dan pengabdian masyarakat Minangkabau di ranah dan rantau yang berkomitmen mendorong pembangunan Sumatera Barat berbasis data, budaya, dan kolaborasi perantau. Organisasi ini bersifat independen, tidak berafiliasi dengan partai politik, serta mengusung konsep pembangunan dari bawah (bottom-up) berbasis nagari sebagai mitra strategis pemerintah daerah.

(Red/Nf)

×
Berita Terbaru Update