-->

Notification

×

Iklan

Iklan Display

Anak Batamu Induaknyo, Zulkifli Malay Dikukuhkan sebagai Koordinator Suku Malayu Padang–Padang Pariaman

Senin, 10 Agustus 2026 | Agustus 10, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-08-10T10:14:37Z
Zulkifli Malay Rajo Panduko Sati bersama Bundo Sako Pagaruyung dalam momentum pengukuhan pengurus Limbago Suku Malayu Minangkabau.


Batusangkar, MP----- Suasana adat dan kekeluargaan terasa kuat di Istano Silinduang Bulan Pagaruyung, Batusangkar, Minggu (9/8/2026). Di tempat yang sarat nilai sejarah dan marwah budaya Minangkabau itu, pengukuhan pengurus Perkumpulan Limbago Suku Malayu Minangkabau sekaligus Dewan Undang Kesultanan Pagaruyung Darul Qoror berlangsung khidmat.


Mengusung tema “Mengabdi dengan Hati, Bergerak untuk Merajut Ikatan Badunsanak Limbago Suku Malayu Minangkabau, Perkuat Silaturahmi dan Identitas Budaya”, kegiatan tersebut bukan sekadar seremoni pengukuhan kepengurusan. Momentum itu menjadi ruang untuk mempererat kembali hubungan badunsanak, merawat identitas suku, sekaligus meneguhkan komitmen generasi Malayu terhadap adat dan kebudayaan Minangkabau.


Salah satu sosok yang mendapat perhatian dalam acara tersebut adalah Zulkifli Malay Rajo Panduko Sati, pendiri Perkumpulan Keluarga Besar Suku Malayu Padang. Dalam prosesi pengukuhan, Zulkifli juga dipercaya menjadi Koordinator Wilayah Padang dan Padang Pariaman.


Bagi Zulkifli, amanah tersebut memiliki makna yang jauh lebih dalam daripada sekadar jabatan organisasi. Ia memandangnya sebagai tanggung jawab untuk menyambungkan kembali tali silaturahmi keluarga besar Suku Malayu, khususnya di wilayah Padang dan Padang Pariaman, dengan akar adat dan sejarah yang berada di ranah Minangkabau.


“Bagi saya, ini adalah sebuah anugerah. Bisa hadir di Istano Silinduang Bulan, bertemu dengan Bundo Sako Pagaruyung dan kemudian mendapatkan amanah sebagai koordinator wilayah merupakan sesuatu yang sangat berarti,” ujar Zulkifli Malay Rajo Panduko Sati.


Ia menggambarkan pertemuan tersebut dengan ungkapan sederhana namun sarat makna: “Anak batamu induaknyo.”


Ungkapan itu, menurut Zulkifli, mencerminkan pertemuan antara generasi dan akar adat. Anak keturunan Suku Malayu yang selama ini tumbuh dan berkembang di berbagai daerah kembali menyapa sumber identitas dan nilai-nilai yang diwariskan para pendahulu.


“Ini bukan hanya tentang kita bertemu secara fisik. Ini tentang bagaimana anak cucu kembali mengenal induknya, mengenal asal-usul, adat, sejarah dan tanggung jawabnya sebagai bagian dari keluarga besar Suku Malayu,” katanya.


Merajut Silaturahmi, Menjaga Identitas


Zulkifli menilai tantangan terbesar dalam menjaga adat pada era modern bukan sekadar mempertahankan simbol-simbol budaya, melainkan memastikan nilai-nilai adat tetap hidup dalam kehidupan generasi muda.


Karena itu, ia berharap keberadaan Perkumpulan Limbago Suku Malayu Minangkabau dapat menjadi wadah yang terbuka bagi seluruh keluarga besar Suku Malayu untuk memperkuat komunikasi, silaturahmi dan kepedulian terhadap generasi penerus.


Menurutnya, kemajuan zaman tidak boleh membuat masyarakat kehilangan hubungan dengan akar budayanya. Justru, adat dan budaya harus mampu menjadi fondasi moral dalam menghadapi perubahan sosial.


“Yang paling penting adalah bagaimana kita menjaga persaudaraan. Jangan sampai anak cucu kita mengetahui nama sukunya, tetapi tidak lagi mengenal nilai, sejarah dan tanggung jawab yang terkandung di dalamnya,” ujarnya.


Sebagai Koordinator Wilayah Padang dan Padang Pariaman, Zulkifli berkomitmen mendorong konsolidasi keluarga besar Suku Malayu di kedua wilayah tersebut. Penguatan organisasi diharapkan tidak berhenti pada struktur kepengurusan, tetapi diwujudkan melalui kegiatan yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.


Mulai dari penguatan silaturahmi antarkeluarga, pengenalan adat dan sejarah kepada generasi muda, hingga membangun komunikasi dengan berbagai unsur masyarakat dan lembaga adat.


Istano Menjadi Titik Temu Generasi


Dari sisi lokasi, Istano Silinduang Bulan Pagaruyung memberikan suasana tersendiri bagi prosesi tersebut. Arsitektur tradisional Minangkabau yang menjadi latar kegiatan seolah mengingatkan kembali bahwa organisasi adat tidak dapat dilepaskan dari sejarah panjang masyarakat Minangkabau.


Di tengah perubahan zaman, pertemuan di lingkungan istano menjadi simbol bahwa modernitas dan adat bukan dua hal yang harus dipertentangkan. Keduanya dapat berjalan beriringan selama generasi penerus memahami akar budayanya.


Bagi Zulkifli, kesempatan hadir dan menerima amanah di lingkungan Pagaruyung menjadi pengalaman yang akan terus dikenang.


Ia berharap momentum tersebut menjadi awal dari gerakan yang lebih besar untuk menyatukan keluarga besar Suku Malayu dalam semangat badunsanak.


“Pengukuhan ini harus kita jadikan awal untuk bergerak bersama. Mengabdi dengan hati, menjaga silaturahmi dan memperkuat identitas budaya. Kalau kita bersatu, insyaallah adat dan budaya ini akan tetap hidup dan dikenal oleh generasi berikutnya,” tutur Zulkifli.


Prosesi pengukuhan akhirnya tidak hanya meninggalkan catatan tentang pergantian atau penetapan kepengurusan. Lebih dari itu, ia menjadi simbol sebuah pertemuan kembali—antara anak dengan induknya, antara generasi sekarang dengan akar sejarahnya, serta antara semangat organisasi dengan tanggung jawab menjaga warisan budaya.


Dari Istano Silinduang Bulan Pagaruyung, pesan itu terasa sederhana namun kuat: adat tidak cukup hanya dikenang, tetapi harus dirawat, diwariskan dan dihidupkan dalam kehidupan sehari-hari.

(Red)

×
Berita Terbaru Update