![]() |
| Rapat koordinasi digelar untuk mengevaluasi pemadaman dan menentukan langkah lanjutan penanganan karhutla. |
Probolinggo, MP----- Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) mendapat perhatian serius pemerintah. Upaya penanganan diperkuat melalui koordinasi lintas instansi untuk memastikan api dapat dikendalikan sekaligus melindungi kawasan konservasi dan keselamatan masyarakat.
Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni bersama Pangdam V/Brawijaya Mayjen TNI Rudi Saladin, M.A. turun langsung meninjau penanganan karhutla di kawasan TNBTS, Minggu (9/8/2026). Kunjungan tersebut menjadi momentum untuk mengevaluasi kondisi terkini sekaligus memastikan seluruh sumber daya dikerahkan secara terkoordinasi.
Peninjauan tidak berhenti pada pemantauan lapangan. Pemerintah bersama unsur TNI, Polri, pemerintah daerah, BNPB, BPBD, serta pengelola kawasan konservasi menggelar rapat koordinasi untuk membahas perkembangan penanganan kebakaran, kondisi cuaca, kebutuhan dukungan personel dan peralatan, hingga strategi operasi berikutnya.
Pangdam V/Brawijaya menegaskan bahwa penanganan karhutla membutuhkan sistem komando yang jelas. Setiap unsur yang terlibat harus memahami tugas dan tanggung jawabnya agar operasi pemadaman berjalan efektif, cepat, dan terukur.
Menurutnya, keberadaan Incident Commander menjadi bagian penting dalam memastikan seluruh unsur di lapangan bergerak dalam satu kendali. Dengan rantai komando yang tegas, pengambilan keputusan dapat dilakukan secara cepat dan setiap dukungan dapat diarahkan sesuai kebutuhan operasi.
Pendekatan terpadu tersebut menjadi penting mengingat TNBTS bukan sekadar kawasan hutan, tetapi juga wilayah konservasi dengan nilai ekologis, sosial, dan pariwisata yang sangat besar. Kebakaran yang tidak segera dikendalikan berpotensi menimbulkan kerusakan terhadap ekosistem sekaligus mengganggu aktivitas masyarakat di sekitar kawasan.
Pemerintah menempatkan percepatan penanganan karhutla sebagai prioritas, dengan tetap memperhatikan keselamatan personel yang bekerja di medan operasi. Kondisi cuaca, karakteristik medan, serta perkembangan titik api menjadi faktor yang terus dipantau dalam menentukan langkah pemadaman.
Sinergi lintas sektor di TNBTS sekaligus menunjukkan bahwa penanganan bencana tidak dapat dilakukan oleh satu institusi. TNI, Polri, pemerintah, lembaga penanggulangan bencana, pengelola kawasan, dan masyarakat harus berada dalam satu gerak untuk mencegah kebakaran meluas dan mempercepat pemulihan kawasan terdampak.
Di tengah ancaman karhutla yang dapat berkembang cepat, kekuatan utama bukan hanya pada jumlah personel dan peralatan, tetapi juga pada kecepatan koordinasi, ketepatan komando, serta kemampuan seluruh unsur bekerja sebagai satu kesatuan.
Peninjauan Menteri Kehutanan dan Pangdam V/Brawijaya di TNBTS menjadi penegasan bahwa perlindungan kawasan konservasi merupakan tanggung jawab bersama. Penanganan di lapangan pun diarahkan bukan semata untuk memadamkan api, tetapi memastikan kelestarian ekosistem TNBTS tetap terjaga dan masyarakat sekitar terlindungi.
(puspen/red)
