![]() |
| Kondisi terkini Sungai Batang Arau menunjukkan akumulasi sedimentasi yang semakin parah, membentuk daratan baru dan mengganggu fungsi utama sungai sebagai saluran pengendali banjir. |
Padang, MP----- Kondisi Sungai Batang Arau di Kota Padang semakin memprihatinkan. Tumpukan sedimentasi yang mengendap di sepanjang alur sungai diduga telah berlangsung cukup lama hingga membentuk daratan baru yang kini ditumbuhi rumput liar, semak belukar, bahkan pepohonan.
![]() |
| Sedimentasi yang tidak tertangani secara berkala membuat alur Sungai Batang Arau menyempit. Masyarakat mendesak adanya pengerukan rutin sebagai langkah mitigasi bencana banjir. |
Pantauan jurnalis di kawasan Jalan Seberang Padang Utara, Kecamatan Padang Selatan, Jumat (19/6/2026), memperlihatkan kondisi alur sungai yang mengalami pendangkalan dan penyempitan akibat akumulasi sedimen yang belum ditangani secara optimal.
![]() |
| Kondisi Sungai Batang Arau kian memprihatinkan. Endapan sedimentasi yang telah lama terjadi kini berubah menjadi daratan yang ditumbuhi vegetasi liar dan mengurangi kapasitas tampung sungai. |
Masyarakat menilai kondisi tersebut berpotensi memperbesar risiko banjir ketika musim hujan tiba karena kapasitas tampung Sungai Batang Arau terus berkurang.
Keprihatinan warga pun mengarah kepada Balai Wilayah Sungai Sumatera (BWSS) V Padang, khususnya jajaran Satuan Kerja Operasi dan Pemeliharaan Sumber Daya Air (Satker OP-SDA), yang memiliki kewenangan dalam pengelolaan dan pemeliharaan sungai.
"Kalau sudah sampai tumbuh rumput dan pohon di atas endapan sedimen, artinya persoalan ini sudah berlangsung cukup lama. Jangan menunggu banjir dulu baru dilakukan pengerukan," kata Rudi (52), salah seorang tokoh masyarakat Padang Selatan.
Dari pantauan di lapangan, sebagian endapan sedimentasi bahkan telah menyerupai daratan kecil yang memanjang di tengah aliran sungai. Kondisi tersebut secara kasat mata mempersempit badan sungai.
Warga yang bermukim di sekitar kawasan Batang Arau mengaku khawatir menghadapi musim penghujan mendatang.
"Kami yang tinggal dekat sungai selalu waswas setiap hujan deras turun. Kalau kapasitas sungai berkurang, tentu risiko air meluap semakin besar," ujar Siti Rahma (43), warga setempat.
Kewenangan Berada di BWSS-V Padang
Lurah Seberang Padang, Yovi Angraini, saat ditemui di kantornya, Jumat (19/6/2026), menjelaskan bahwa pengelolaan teknis Sungai Batang Arau merupakan kewenangan BWSS-V Padang.
Ia mengatakan, pengerukan sedimentasi terakhir dilakukan pascabencana pada November 2025.
"Setelah itu belum ada lagi pembersihan. Kalau bisa memang dirutinkan saja pengerukan dan pembersihan sungai," ujarnya.
Menurut Yovi, pihak kelurahan tidak mengetahui alasan belum dilakukannya kembali pengerukan selama lebih dari enam bulan terakhir.
Hal senada disampaikan Sekretaris Lurah Seberang Padang Utara, Diah Rahmadini. Ia mengatakan pengerukan sempat dilakukan pada rentang Desember 2025 hingga Januari 2026.
Selain itu, pemerintah bersama pihak terkait juga telah melakukan penertiban bangunan liar di kawasan Batang Arau.
Pihak kelurahan, kata Diah, juga terus mengimbau masyarakat agar menjaga kebersihan lingkungan dan tidak membuang sampah ke sungai.
"Kami sudah menyediakan dua kontainer sampah, memasang spanduk larangan membuang sampah, dan menyampaikan imbauan melalui ketua RT serta operator LPS," katanya.
Belum Ada Pengerukan Sejak Oktober 2025
Saat jurnalis mendatangi Kantor Camat Padang Selatan, Camat Wilman Muchtar, S.Sos., M.Si., sedang menghadiri kegiatan Tabligh Akbar di Masjid Agung Nurul Iman Padang.
Sementara itu, staf Seksi Ketenteraman dan Ketertiban Umum (Trantib), Opin Catur Diansyah, mengatakan informasi tersebut akan diteruskan kepada Kasi Trantib.
"Setahu saya, dari bulan Oktober 2025 sampai sekarang belum ada pengerukan dan pembersihan sedimentasi lagi," ujarnya.
Publik Minta BWSS-V Padang Bertindak
Sejumlah kalangan masyarakat menilai pengelolaan sungai tidak boleh bersifat reaktif dan hanya dilakukan setelah terjadi bencana.
Arif Nugraha (35), akademisi dan pemerhati tata ruang perkotaan, mengatakan sedimentasi yang telah berubah menjadi daratan menunjukkan perlunya evaluasi terhadap pola pemeliharaan sungai.
"Pengerukan sedimentasi harus menjadi program rutin. Sungai adalah infrastruktur vital yang berkaitan langsung dengan keselamatan masyarakat," ujarnya.
Senada, Yulizar (47), pelaku usaha di kawasan Batang Arau, berharap BWSS-V Padang segera mengambil tindakan nyata.
"Masyarakat tidak sedang mencari siapa yang salah. Yang dibutuhkan sekarang adalah solusi agar kapasitas sungai kembali normal sebelum musim hujan datang," katanya.
Masyarakat juga meminta BWSS-V Padang menjalankan tugas dan fungsi operasi serta pemeliharaan sungai secara maksimal melalui pengerukan berkala, pembersihan vegetasi yang tumbuh di tengah aliran sungai, serta pemetaan titik-titik sedimentasi yang berpotensi menghambat aliran air.
BWSS-V Padang Belum Berikan Keterangan
Upaya konfirmasi telah dilakukan kepada Erianto ST., MT., selaku PPK OP 2 Satker OP-SDA BWSS-V Padang pada Jumat (19/6/2026).
Namun hingga berita ini ditulis, yang bersangkutan belum memberikan tanggapan.
Redaksi tetap membuka ruang hak jawab dan klarifikasi apabila BWSS-V Padang memberikan keterangan resmi setelah berita diterbitkan.
(Red/MP)


