![]() |
| Foto bersama usai perbincangan antara jajaran Zidam I/Bukit Barisan dan wartawan di Kantor Zidam, Padang, Rabu (15/7/2026). |
Padang, MP----- Delapan bulan setelah bencana hidrometeorologi menerjang Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat pada akhir November 2025, jejak kerusakan masih menyisakan pekerjaan besar. Namun di balik puing-puing yang perlahan dipulihkan, harapan baru mulai tumbuh. Salah satunya melalui revitalisasi puluhan sekolah yang menjadi simbol bangkitnya dunia pendidikan di daerah terdampak.
Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) bersama Mabes TNI Angkatan Darat menggulirkan Program Bantuan Pemerintah Revitalisasi Satuan Pendidikan 2026. Program ini melibatkan jajaran TNI AD untuk mempercepat pemulihan infrastruktur pendidikan agar anak-anak dapat kembali belajar di ruang kelas yang aman dan layak.
"Program ini merupakan tindak lanjut dari MoU antara Kemendikdasmen dan Mabes TNI AD di tingkat pusat. Fokusnya adalah memperbaiki sekolah-sekolah yang terdampak bencana hidrometeorologi di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat," ujar Mayor Raden Zendy, Kasi Rekonstruksi (Rekon) Zidam I/Bukit Barisan, saat berbincang dengan wartawan di Kantor Zidam I/Bukit Barisan, Rabu (15/7/2026).
Perbincangan berlangsung dalam suasana hangat dan penuh keakraban. Semula wartawan berencana bersilaturahmi dengan Komandan Zidam I/Bukit Barisan, namun karena sedang menjalankan tugas dinas di Jakarta, dialog pun berlanjut bersama Mayor Raden Zendy dan Kapten Debby Pramuji, Kasi Pengawasan (Aswas).
Kapten Debby menjelaskan, pelaksanaan program berada di bawah koordinasi Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah Kemendikdasmen. Sinergi dengan TNI AD menjadi langkah strategis agar proses rehabilitasi berjalan cepat, tepat sasaran, dan memenuhi standar yang telah ditetapkan.
Di Sumatera Barat, sebanyak 21 satuan pendidikan menjadi sasaran revitalisasi, terdiri atas 2 PAUD, 8 SD, 10 SMP, dan 1 SMA. Kehadiran program ini diharapkan mampu menghapus jejak kerusakan yang ditinggalkan bencana sekaligus menghadirkan kembali rasa aman bagi para siswa, guru, dan orang tua.
Revitalisasi sekolah bukan sekadar membangun kembali gedung yang rusak. Lebih dari itu, program ini menjadi ikhtiar mengembalikan semangat belajar generasi muda, memastikan proses pendidikan tidak terhenti, serta memperkuat optimisme masyarakat bahwa pemulihan pascabencana harus dimulai dari ruang-ruang kelas tempat masa depan bangsa ditempa.
Dengan kolaborasi pemerintah dan TNI AD, sekolah-sekolah yang sempat terdampak kini perlahan bangkit. Di balik setiap dinding yang diperbaiki dan setiap ruang belajar yang dibangun kembali, tersimpan harapan agar anak-anak di wilayah bencana dapat menatap masa depan dengan keyakinan yang lebih kuat.
(MP)
