![]() |
| Panglima TNI Jenderal TNI Agus Subiyanto menyampaikan sambutan pada Reuni Akbar 35 Tahun Nawatunggal Mengabdi di Lapangan Prima Mabes TNI, Cilangkap, Jakarta Timur. |
Jakarta, MP----- Tiga setengah dekade pengabdian menjadi momentum bagi alumni AKABRI 1991 atau Nawatunggal untuk meneguhkan kembali ikatan persaudaraan dan komitmen memberikan manfaat bagi bangsa. Reuni Akbar 35 Tahun Nawatunggal Mengabdi digelar di Lapangan Prima Mabes TNI, Cilangkap, Jakarta Timur, Sabtu (8/8/2026), dengan mengusung tema “Persaudaraan, Pengabdian dan Kejayaan Sepanjang Masa.”
![]() |
| Alumni AKABRI 1991 bersama Panglima TNI dan Kapolri berfoto bersama dalam Reuni Akbar 35 Tahun Nawatunggal Mengabdi. |
Reuni tersebut tidak sekadar menjadi ajang temu kangen para alumni yang telah menapaki perjalanan panjang dalam pengabdian di tubuh TNI dan Polri. Beragam kegiatan sosial dan kebangsaan turut mewarnai perhelatan, mulai dari olahraga bersama, penanaman pohon, pelepasan burung, bakti sosial, santunan, hingga pemberian penghargaan kepada prajurit terbaik TNI dan Polri.
Kegiatan juga diisi dengan pemberian tali asih kepada para mantan pelatih dan pengasuh Candradimuka, sebagai bentuk penghormatan terhadap sosok-sosok yang turut membentuk karakter dan integritas para perwira alumni AKABRI 1991. Tausiah Ustadz Adi Hidayat menjadi bagian penutup yang memperkuat pesan moral tentang persaudaraan dan pengabdian.
Panglima TNI Jenderal TNI Agus Subiyanto dalam sambutannya menyampaikan apresiasi kepada seluruh alumni Nawatunggal beserta keluarga yang hadir. Menurutnya, perjalanan 35 tahun bukan hanya mencerminkan lamanya masa pengabdian, tetapi juga menunjukkan pentingnya menjaga nilai persaudaraan setelah melewati berbagai fase kehidupan dan tugas.
Agus menegaskan bahwa ukuran keberhasilan seorang prajurit tidak semata-mata ditentukan oleh jabatan atau kedudukan yang pernah diemban. Yang jauh lebih penting adalah nilai dan manfaat yang ditinggalkan bagi lingkungan, bangsa, serta sesama.
«“Pada akhirnya, yang akan dikenang bukanlah jabatan yang pernah kita sandang, melainkan ketulusan persaudaraan, kebaikan yang kita tinggalkan serta manfaat yang kita berikan kepada sesama,” pesan Panglima TNI.»
Pesan tersebut menjadi refleksi penting bagi keluarga besar Nawatunggal yang sebagian anggotanya masih aktif menjalankan tugas negara, sementara sebagian lainnya telah memasuki masa purnatugas. Perbedaan posisi dan perjalanan karier tidak semestinya menghapus ikatan yang telah dibangun sejak masa pendidikan.
Panglima TNI juga mengajak alumni untuk menjadikan masa pengabdian sebagai ruang memperluas silaturahmi sekaligus memperbanyak kontribusi positif. Baginya, persaudaraan yang terjaga dan kebaikan yang terus dilakukan merupakan warisan yang memiliki nilai jauh lebih panjang dibandingkan jabatan.
“Mari kita isi dengan mempererat persaudaraan, memperbanyak silaturahmi, dan meninggalkan sebanyak-banyaknya kebaikan. Itulah warisan terbaik yang dapat kita tinggalkan sebagai keluarga besar Nawatunggal,” pungkas Agus.
Semangat serupa disampaikan Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo. Ia menilai ikatan persaudaraan tidak boleh berhenti ketika seseorang menyelesaikan masa kedinasannya. Silaturahmi dan persahabatan harus tetap terpelihara di tengah perubahan peran dan lingkungan pengabdian.
“Dimanapun kita berada, apakah saat kita masih dinas, ataukah saat kita sudah tidak dinas, silaturahmi, persaudaraan, persahabatan selalu senantiasa terjaga sampai kapanpun,” ujar Listyo Sigit.
Sementara itu, Ustadz Adi Hidayat memberikan perspektif moral terhadap makna Nawatunggal. Menurutnya, kekompakan yang dibangun dalam perjalanan panjang para alumni dapat menjadi teladan bagi generasi berikutnya.
Ia berharap alumni AKABRI 1991 mampu menjadi contoh bahwa perbedaan latar belakang, perjalanan karier, maupun penugasan tidak menjadi penghalang untuk mempertahankan persaudaraan dan bersama-sama membangun bangsa.
“Kita berharap angkatan Nawatunggal bisa menginspirasi angkatan-angkatan lainnya, bahwa angkatan inilah yang walaupun beragam latar belakangnya tetap kompak, memelihara persaudaraan dan tetap kompak membangun bangsa,” kata Adi Hidayat.
Reuni 35 tahun Nawatunggal akhirnya menjadi lebih dari sekadar pertemuan para sahabat seperjuangan. Di tengah perjalanan panjang pengabdian, kegiatan tersebut menghadirkan pesan bahwa keberhasilan seorang prajurit tidak berhenti pada pencapaian karier, melainkan berlanjut pada kemampuan menjaga persaudaraan, mengabdi tanpa batas dan meninggalkan jejak kebaikan.
Tiga puluh lima tahun pengabdian pun dirayakan bukan dengan sekadar mengenang masa lalu, tetapi dengan meneguhkan kembali komitmen untuk terus memberikan arti bagi bangsa dan negara.
(puspen/red)

