-->

Notification

×

Iklan

Iklan Display

Layanan IGD RSAM Bukittinggi Dikeluhkan Warga, Pemerhati Hukum Kesehatan Tegaskan Perlu Sanksi dan Evaluasi Pemerintah Daerah

Sabtu, 15 Agustus 2026 | Agustus 15, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-08-15T15:24:57Z
Direktur RSAM Bukittinggi drg. Busril memberikan klarifikasi terkait keluhan pelayanan IGD.


Bukittinggi, MP----- Pelayanan di Instalasi Gawat Darurat (IGD) Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Dr. Achmad Mochtar (RSAM) Bukittinggi kembali menuai keluhan dari masyarakat. Kali ini, dugaan kelalaian penanganan dialami seorang anak yang membutuhkan tindakan medis akibat luka robek di bagian dagu setelah jatuh di sekolah.


Keluhan tersebut memantik sorotan tajam dari Pemerhati Hukum Kesehatan Sumatera Barat, Idul Fitri, S.H., M.H., M.Kn. Ia menegaskan bahwa pemerintah daerah wajib memberikan arahan dan evaluasi tegas, serta menerapkan sanksi jika terbukti ada unsur penelantaran pasien.


"Penelantaran pasien di rumah sakit, apalagi di ruang IGD, tidak boleh terjadi lagi di Sumatera Barat. Harus ada ketegasan dan sanksi yang nyata bagi pelaku atau penanggung jawab layanan jika sengaja mengabaikan kenyamanan dan keselamatan pasien. Pemerintah daerah selaku pemilik fasilitas harus mengevaluasi total manajemen agar tragedi layanan seperti ini tidak terulang," tegas Idul Fitri.


Kronologi Keluhan Pasien: Menunggu Sejam Tanpa Action Medis


Peristiwa tersebut terjadi pada Selasa (11/08/2026). Orang tua pasien, Dhani (42), warga Kota Bukittinggi, menuturkan bahwa ia membawa anaknya ke IGD RSAM sekitar pukul 12.15 WIB.


Namun, setelah masuk ruang perawatan, anaknya hanya diperiksa singkat oleh petugas dan diminta menunggu tanpa ada kejelasan tindakan pembersihan atau penjahitan luka. Setelah menunggu lebih dari satu jam dan hanya mendapat alasan peralatan medis sedang dibersihkan, Dhani akhirnya memutuskan membawa anaknya keluar dari RSAM.


Dhani membawa anaknya ke IGD RS Yarsi Bukittinggi. Di rumah sakit tersebut, anaknya langsung mendapat tindakan medis cepat berupa penanganan luka dan tiga jahitan dari petugas yang ramah serta alat yang siap pakai.


"Di Yarsi, anak saya langsung diberikan penanganan. Saya tidak mengerti SOP yang membedakan masing-masing rumah sakit. Yang pasti, di Yarsi petugas medis ramah menerima kami, mengecek, dan langsung bertindak," keluh Dhani.


Klarifikasi RSAM: Bantah Melalaikan, Tegaskan Sesuai Prosedur Kategori Kuning


Terpisah, Direktur RSAM Bukittinggi, drg. Busril, membantah tegas anggapan bahwa pihaknya telah menelantarkan pasien. Menurutnya, seluruh tim medis di IGD telah bekerja sesuai Standar Operasional Prosedur (SOP) dan terekam dalam rekam medis elektronik.


Busril menjelaskan, berdasarkan asesmen medis, pasien masuk dalam kategori status kuning (prioritas kedua), di mana kondisi fisik pasien tergolong stabil dan tidak mengalami perdarahan aktif. Pada saat yang sama, IGD tengah dipadati pasien rujukan darurat yang membutuhkan penanganan prioritas utama (status merah).


"Kami membantah melalaikan pasien karena ada catatan medis. Dokter melakukan tindakan terukur dan kehati-hatian. Terkait penjahitan luka, terdapat prosedur sterilisasi alat melalui Central Sterile Supply Department (CSSD) yang harus dipenuhi terlebih dahulu. Order alat sudah dilakukan, namun keluarga memutuskan tidak menunggu lebih lama," terang drg. Busril, Rabu (12/08/2026).


Dokter yang bertugas saat kejadian, dr. M. Rafky, menambahkan bahwa komunikasi awal dengan keluarga sebenarnya berjalan baik. Semua order alat dan obat penanganan telah diinput ke sistem Rekam Medis Elektronik (RME). Namun, lonjakan pasien gawat darurat yang tiba bersamaan membuat proses persiapan alat membutuhkan waktu.


Perlindungan Pasien dan Kualitas Layanan Kesehatan Daerah


Menanggapi dinamika perbedaan persepsi antara SOP medis dan kenyataan di lapangan, Idul Fitri, S.H., M.H., M.Kn., menyayangkan lemahnya edukasi serta ketanggapan komunikasi petugas di ruang trauma. Menurutnya, alasan sterilisasi dan klasifikasi triase tidak boleh mengabaikan kenyamanan psikologis pasien dan keluarga yang sedang panik.


Ia mendorong Pemerintah Provinsi Sumatera Barat untuk turun tangan melakukan peninjauan standar pelayanan umum di RSAM Bukittinggi agar kejadian serupa tidak menggerus kepercayaan masyarakat terhadap rumah sakit pemerintah. 

(Idul Fitri/red-MP)

×
Berita Terbaru Update