-->

Notification

×

Iklan

Iklan Display

Trase Bypass 6,7 Kilometer Didorong Jadi Solusi Exit Tol Sicincin-Bukittinggi

Rabu, 26 Agustus 2026 | Agustus 26, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-08-26T13:22:08Z
Andre Rosiade berdiskusi bersama Kepala BPJN Sumbar Elsa Putra Friandi terkait rencana pengembangan trase bypass.


Agam, MP----- Persoalan kemacetan di kawasan Padang Luar, Kabupaten Agam, sekaligus kebutuhan konektivitas menuju rencana Tol Sicincin-Bukittinggi, kembali mendapat alternatif solusi. Wakil Ketua Komisi VI DPR RI Fraksi Partai Gerindra, H. Andre Rosiade, bersama Kepala Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Sumatera Barat Elsa Putra Friandi, meninjau langsung kawasan Pasar Amor, Nagari Batu Palano, Kecamatan Sungai Pua, Kabupaten Agam.

Kawasan Pasar Amor menjadi salah satu titik yang dikaji untuk mendukung konektivitas exit Tol Sicincin-Bukittinggi.


Peninjauan tersebut diarahkan untuk melihat potensi trase bypass yang dinilai strategis sebagai akses pendukung exit Tol Sicincin-Bukittinggi sekaligus jalur alternatif untuk memecah arus kendaraan yang selama ini bertumpu di kawasan Padang Luar.


Andre mengungkapkan, trase yang dikaji bukan merupakan gagasan baru. Jalur tersebut telah direncanakan sejak era 1990-an, tetapi hingga kini belum terealisasi karena persoalan pembebasan lahan dan keterbatasan anggaran. Trase itu memiliki panjang sekitar 6,7 kilometer, dengan rencana koneksi dari kawasan Pasar Amor menuju Simpang Taluak hingga terhubung dengan Jalan Bypass Bukittinggi.


“Sekarang kami sudah punya solusi bagaimana kemacetan ini bisa diurai. Trase bypass ini sudah ada sejak tahun 1990-an, tetapi lahannya tidak pernah dibebaskan dan belum dibangun karena keterbatasan anggaran,” ujar Andre.


Menurutnya, optimalisasi trase lama tersebut dapat menjadi titik temu antara kepentingan pembangunan jalan tol dan kebutuhan mengurai kepadatan lalu lintas. Konsep yang didorong adalah menyiapkan exit tol di sekitar Pasar Amor, kemudian mengalirkan kendaraan melalui jalur bypass sehingga tidak seluruhnya masuk ke jalan nasional di Padang Luar.


“Insya Allah dari Padang Panjang menuju Agam ini nanti exit tolnya kita siapkan di daerah Pasar Amor. Supaya tidak macet dan tidak masuk ke jalan nasional ke arah Padang Luar, bypass yang sudah direncanakan sekitar enam kilometer ini dibangun pemerintah pusat,” katanya.


Andre menilai pendekatan tersebut berpotensi menyelesaikan dua persoalan sekaligus, pembangunan akses Tol Sicincin-Bukittinggi tetap dapat didorong, sementara trase bypass yang telah lama direncanakan juga dapat diwujudkan.


Gagasan itu juga tidak terlepas dari persoalan yang selama ini membayangi rencana penanganan kemacetan Padang Luar, termasuk kebutuhan pembebasan lahan dan relokasi pedagang apabila pembangunan flyover dilakukan di kawasan pasar. Karena itu, integrasi antara jalan tol dan bypass dinilai perlu dikaji secara lebih matang sebelum keputusan teknis dan pembiayaan ditetapkan.


Dari sisi teknis jaringan jalan, Kepala BPJN Sumbar Elsa Putra Friandi didampingi Kasatker PJN Wilayah 1 Sumbar, Andi Mulya Rusli menyatakan dukungannya terhadap konsep integrasi tersebut. Menurutnya, keberadaan bypass akan memberikan alternatif baru bagi pergerakan kendaraan sehingga beban lalu lintas tidak terkonsentrasi pada satu ruas jalan.


“Ini solusi yang sangat bagus. Nanti ada tol kemudian kita integrasikan dengan bypass, sehingga lalu lintas bisa juga menggunakan trase bypass ini,” ujar Elsa.


Elsa menjelaskan, apabila trase bypass diintegrasikan dengan pembangunan tol, proses pembebasan lahan berpeluang disinergikan dengan pelaksanaan proyek tol. Dari perspektif sistem jaringan jalan nasional, jalur tersebut akan memberikan pilihan baru bagi kendaraan untuk menghindari titik kepadatan di Padang Luar.


“Dengan ini diintegrasikan dengan tol, pembebasan lahan nanti bisa sekalian dengan pelaksanaan jalan tol. Secara sistem jaringan jalan nasional, ada alternatif lain untuk memecah jalur lalu lintas dari bypass yang sudah ada ke jalan nasional di posisi Pasar Amor,” jelasnya.


Namun, gagasan tersebut masih membutuhkan tahapan teknis, pembahasan lintas instansi, kepastian pendanaan, serta sosialisasi kepada masyarakat yang berpotensi terdampak. Berdasarkan keterangan yang disampaikan, pematangan trase direncanakan dibahas bersama pemerintah daerah, BPN, Kementerian PU, Direktorat Jalan Bebas Hambatan dan Hutama Karya pada 8 September 2026.


Bagi Andre, pembangunan konektivitas tidak semata-mata soal membangun jalan. Infrastruktur tersebut harus mampu memberikan dampak ekonomi yang lebih luas bagi Sumatera Barat. Jalan tol dan jaringan bypass diharapkan memperlancar distribusi komoditas pertanian, perikanan dan peternakan menuju Riau, sekaligus membuka akses wisatawan dari Riau ke Sumbar.


Dengan demikian, rencana trase bypass Pasar Amor kini kembali ditempatkan sebagai bagian dari opsi strategis pengembangan jaringan transportasi Sumatera Barat. Tantangannya tinggal memastikan gagasan tersebut diterjemahkan menjadi keputusan teknis yang terukur, skema pendanaan yang jelas, serta proses pembebasan lahan yang transparan dan tidak mengabaikan kepentingan masyarakat.


Jika seluruh tahapan dapat diselesaikan, integrasi Tol Sicincin-Bukittinggi–bypass Pasar Amor–Simpang Taluak–Bypass Bukittinggi berpotensi menjadi salah satu simpul penting untuk mengurai kepadatan Padang Luar sekaligus memperkuat konektivitas ekonomi kawasan Agam dan Bukittinggi.

(tim-AR/MP)

×
Berita Terbaru Update