-->

Notification

×

Iklan

Iklan Display

Energi Surya Hidupkan 400 Hektare Sawah Tanjung Barulak

Rabu, 09 September 2026 | September 09, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-09-08T23:52:53Z
Gubernur Sumbar Mahyeldi Ansharullah menandatangani prasasti peresmian pompanisasi tenaga surya di Nagari Tanjung Barulak, Tanah Datar.


Tanah Datar, MP----- Setelah puluhan tahun bergantung pada hujan, petani Nagari Tanjung Barulak, Kabupaten Tanah Datar, kini mulai menikmati kepastian air untuk lahan pertanian mereka. Pompanisasi irigasi berbasis tenaga surya yang dibangun melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) PT PLN (Persero) UID Sumatera Barat mulai mengalirkan air ke persawahan masyarakat.


Program bertajuk “Sumbar Tumbuh, Sumbar Tangguh” itu diresmikan Minggu (6/9/2026), sekaligus menjadi bagian dari PLN Peduli dalam rangka Hari Jadi Sumatera Barat ke-81. Air dari Batang Manganan dipompa menggunakan energi matahari dan dialirkan melalui jaringan pipa sepanjang sekitar empat kilometer menuju kawasan persawahan.


Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi Ansharullah mengatakan, hadirnya infrastruktur tersebut menjadi jawaban atas penantian panjang masyarakat Tanjung Barulak. Selama ini, sebagian besar lahan pertanian masih mengandalkan curah hujan sehingga pola tanam sangat terbatas.


“Penantian yang sudah berpuluh-puluh tahun dari masyarakat Tanjung Barulak, alhamdulillah kini terjawab,” kata Mahyeldi.


Menurutnya, ketersediaan air membuka peluang bagi petani meningkatkan intensitas tanam. Lahan yang sebelumnya hanya dapat ditanami sekali setahun diharapkan mampu berkembang menjadi dua hingga tiga kali tanam.


Mahyeldi menilai, pompanisasi tersebut bukan sekadar pembangunan sarana irigasi, tetapi bagian dari upaya memperkuat ketahanan pangan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Karena itu, ia mengapresiasi sinergi pemerintah daerah, pemerintah nagari, PLN, Universitas Andalas, Bank Nagari, PT Semen Padang, kelompok tani dan masyarakat.


“Ini adalah buah daripada persatuan, kekompakan, kerja sama dan sinergi. Ketika kita kompak dan bersatu, insyaallah tidak ada yang berat,” ujarnya.


Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi ikut menjaga keberlangsungan fasilitas tersebut. Jaringan air yang telah dibangun harus dirawat bersama sehingga manfaatnya dapat dirasakan dalam jangka panjang.


Mahyeldi mendorong pengelolaan infrastruktur dilakukan secara terbuka dan mengutamakan musyawarah. Rencana pembangunan bak penampungan air juga diharapkan dapat dikaji bersama untuk meningkatkan efektivitas distribusi air ke lahan pertanian.


“Bulek aia dek pembuluh, bulek kato dek mupakat. Apa yang akan dikerjakan dan dimanfaatkan, mari dimusyawarahkan bersama,” pesannya.


Sekda Kabupaten Tanah Datar Abdul Rahman Hadi menyebut pompanisasi tersebut diproyeksikan mampu melayani sekitar 400 hektare sawah masyarakat Tanjung Barulak. Dengan pengembangan jaringan, cakupan pelayanan air bahkan berpotensi diperluas ke wilayah nagari yang berbatasan.


Tanjung Barulak sendiri dihuni sekitar 1.700 kepala keluarga atau sekitar 5.000 jiwa. Ketergantungan pada sistem tadah hujan selama ini menjadi salah satu persoalan utama dalam pengembangan sektor pertanian.


Keterbatasan air juga berdampak terhadap pengolahan lahan dan pelaksanaan program pertanian, termasuk program bajak sawah gratis. Dengan tersedianya sumber air yang lebih stabil, produktivitas pertanian diharapkan meningkat secara bertahap.


General Manager PLN UID Sumatera Barat Ririn Rachma Wardini mengatakan, pompanisasi tersebut merupakan hasil kolaborasi PLN, Universitas Andalas dan sejumlah pemangku kepentingan. Fakultas Teknik Universitas Andalas sebelumnya mengembangkan prototipe pompa tenaga surya yang kemudian dikembangkan melalui dukungan TJSL PLN agar dapat dimanfaatkan langsung oleh masyarakat.


Menurut Ririn, penggunaan energi surya untuk mendukung irigasi pertanian menunjukkan bahwa energi bersih dapat berjalan beriringan dengan pembangunan ekonomi masyarakat.


Ia berharap konsep tersebut dapat direplikasi di daerah lain yang menghadapi persoalan serupa.


“Kami berharap air yang hari ini mulai mengalir ke lahan pertanian Tanjung Barulak menjadi awal mengalirnya produktivitas, kesejahteraan, harapan baru dan semangat baru bagi masyarakat sekitar,” katanya.


Kini, aliran air bukan lagi sekadar infrastruktur baru bagi Tanjung Barulak. Ia menjadi harapan baru bagi ribuan warga yang selama bertahun-tahun menggantungkan musim tanam pada langit.


Dengan energi matahari sebagai penggerak, lahan pertanian yang sebelumnya terbatas oleh musim mulai memiliki peluang untuk menghasilkan lebih banyak. Tantangan berikutnya adalah memastikan fasilitas tersebut dirawat, dikelola secara bersama, dan benar-benar menjadi pengungkit ekonomi masyarakat.


Program ini sekaligus memperlihatkan bahwa kolaborasi pemerintah, dunia usaha, perguruan tinggi dan masyarakat dapat melahirkan solusi konkret bagi persoalan dasar di tingkat nagari: air, pangan dan kesejahteraan.

(Sb/MP)

×
Berita Terbaru Update