![]() |
| AHY menegaskan pentingnya sinergi pembangunan tanggul laut dan rehabilitasi mangrove dalam menghadapi ancaman abrasi serta banjir rob. |
Demak, MP----- Pemerintah memperkuat upaya perlindungan kawasan Pantai Utara (Pantura) Jawa melalui rencana pembangunan Giant Sea Wall atau tanggul laut raksasa yang dipadukan dengan pemulihan ekosistem pesisir. Strategi ini diarahkan untuk menekan ancaman abrasi, banjir rob, serta penurunan muka tanah yang selama ini membayangi kehidupan masyarakat pesisir.
![]() |
| Menko Infrastruktur AHY mengikuti kegiatan penanaman mangrove untuk memperkuat perlindungan pesisir Pantura Jawa di Desa Timbulsloko, Demak. |
Komitmen tersebut ditegaskan Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), saat menghadiri kegiatan penanaman mangrove di Desa Timbulsloko, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak, Jawa Tengah, Senin (19/10/2026).
Menurut AHY, perlindungan Pantura tidak cukup hanya mengandalkan pembangunan infrastruktur fisik. Pemerintah juga mendorong pendekatan Nature-Based Solutions (NbS), yakni solusi berbasis alam dengan memanfaatkan fungsi ekosistem untuk memperkuat ketahanan wilayah pesisir.
“Tujuan besar dari pembangunan Giant Sea Wall, termasuk apa yang kita lakukan hari ini, pada akhirnya adalah bagaimana menyelamatkan masyarakat yang terdampak meningkatnya permukaan air laut dan menurunnya permukaan tanah,” ujar AHY.
Ia menegaskan, perlindungan kawasan pesisir juga berkaitan erat dengan keberlangsungan mata pencaharian masyarakat serta aktivitas ekonomi nasional. Pantura Jawa merupakan kawasan strategis yang menopang berbagai kegiatan ekonomi, tetapi menghadapi tekanan lingkungan akibat abrasi, kenaikan permukaan laut, dan penurunan muka tanah.
Di Timbulsloko, penerapan pendekatan berbasis alam dilakukan melalui penanaman mangrove yang didukung teknologi HexBricks, guludan, dan struktur bambu. Kawasan tersebut disiapkan sebagai lokasi percontohan dengan rencana pengembangan area mangrove seluas 6,56 hektare serta jalur perlindungan sepanjang 2,94 kilometer.
Mangrove diharapkan membantu meredam energi gelombang, menahan sedimen, dan mengurangi abrasi. Upaya tersebut menjadi pelengkap pembangunan tanggul laut serta sistem pengendalian banjir dalam menghadapi berbagai ancaman di wilayah pesisir.
Secara keseluruhan, program perlindungan Pantura Jawa direncanakan menjangkau sekitar 575 kilometer kawasan pesisir yang tersebar di 25 kabupaten/kota pada lima provinsi. Pelaksanaannya membutuhkan koordinasi lintas sektor agar pembangunan infrastruktur dan rehabilitasi lingkungan berjalan selaras dengan karakteristik masing-masing wilayah.
AHY, yang juga menjabat Ketua Dewan Pengarah program perlindungan Pantura Jawa, menekankan pentingnya keterlibatan pemerintah pusat, pemerintah daerah, dunia usaha, perguruan tinggi, dan masyarakat. Menurutnya, keberhasilan program tidak semata-mata diukur dari panjang infrastruktur yang dibangun atau jumlah bibit mangrove yang ditanam, tetapi juga dari tingkat kelangsungan hidup tanaman dan efektivitas perlindungan pesisir dalam jangka panjang.
Kepala Badan Otorita Pengelola Pantura Jawa (BOPPJ), Laksamana TNI (Purn) Didit Herdiawan Ashaf, yang juga Wakil Menteri Kelautan dan Perikanan, menyampaikan bahwa kegiatan di Timbulsloko menjadi percontohan untuk mempelajari kondisi alam setempat sebelum pendekatan serupa dikembangkan di wilayah lain.
Didit juga mengingatkan agar pembangunan perlindungan pesisir tetap memperhatikan keberlanjutan mata pencaharian nelayan dan petambak. Masyarakat perlu dilibatkan sejak tahap perencanaan hingga pemeliharaan sehingga program tidak mengganggu akses ekonomi warga.
Penggunaan HexBricks yang diproduksi masyarakat setempat turut menjadi bagian dari upaya mendorong keterlibatan ekonomi lokal. Pemanfaatan produk tersebut diharapkan membuka peluang kerja sekaligus menambah pendapatan masyarakat pesisir.
Melalui koordinasi Dewan Pengarah dan pelaksanaan program oleh BOPPJ sesuai tugas serta kewenangannya, pemerintah menargetkan perlindungan Pantura Jawa dapat berjalan secara terpadu dan berkelanjutan. Evaluasi penerapan pendekatan berbasis alam di Timbulsloko akan menjadi bahan pembelajaran untuk memperkuat perlindungan kawasan pesisir lainnya.
Kegiatan tersebut turut dihadiri Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi, Bupati Demak Eisti'anah, serta sejumlah pejabat dari kementerian dan lembaga terkait.
Pemerintah berharap sinergi pembangunan infrastruktur dan pemulihan ekosistem dapat memperkuat ketahanan kawasan Pantura Jawa, sekaligus menjaga keselamatan, mata pencaharian, dan keberlangsungan ekonomi masyarakat pesisir.
(Ns/MP)

