![]() |
| Fadly Amran memaparkan pengalaman Kota Padang dalam menghadapi berbagai potensi bencana. |
Padang, MP----- Pengalaman Kota Padang dalam menghadapi berbagai potensi bencana menjadi salah satu pembahasan penting dalam Seminar Kebencanaan yang digelar Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (Apeksi) Komisariat Wilayah (Komwil) I di Hotel Santika, Padang, Rabu (30/9/2026).
Wali Kota Padang Fadly Amran yang hadir sebagai narasumber memaparkan kondisi kebencanaan Kota Padang sekaligus langkah-langkah yang perlu diperkuat pemerintah daerah dan masyarakat dalam menghadapi berbagai ancaman bencana.
Di hadapan delegasi 24 kota anggota Komwil I Apeksi, Fadly menegaskan bahwa kesiapsiagaan tidak boleh dibangun hanya ketika bencana terjadi. Menurutnya, mitigasi dan kesiapan menghadapi bencana harus menjadi bagian dari kebijakan pembangunan serta dilakukan secara berkelanjutan.
“Kesiapsiagaan menghadapi bencana harus dibangun bersama dan dilakukan secara berkelanjutan. Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri, tetapi membutuhkan keterlibatan masyarakat dan seluruh pemangku kepentingan,” ujar Fadly.
Ia menjelaskan, Kota Padang memiliki tingkat kerawanan bencana yang cukup tinggi. Kondisi geografis kota yang berada di kawasan pesisir dan jalur Cincin Api (Ring of Fire) menjadikan Padang memiliki potensi menghadapi berbagai jenis bencana.
Ancaman tersebut antara lain gempa bumi, tsunami, banjir, tanah longsor serta bencana hidrometeorologi lainnya. Karena itu, menurut Fadly, pemerintah daerah harus memiliki perencanaan yang matang, sistem mitigasi yang kuat serta kemampuan respons yang cepat ketika bencana terjadi.
“Posisi geografis Padang membuat kita harus selalu siap menghadapi berbagai kemungkinan. Karena itu, mitigasi, edukasi masyarakat, kesiapan infrastruktur dan koordinasi antarlembaga menjadi hal yang sangat penting,” katanya.
Fadly menilai pengalaman menghadapi berbagai kejadian bencana harus menjadi bahan evaluasi untuk memperkuat sistem penanggulangan bencana. Pengetahuan dan pengalaman tersebut juga penting untuk dibagikan kepada pemerintah daerah lain, khususnya sesama anggota Apeksi.
Menurutnya, penguatan kapasitas masyarakat menjadi salah satu kunci dalam mengurangi risiko korban dan kerugian ketika bencana terjadi. Masyarakat perlu memahami karakteristik ancaman di wilayah masing-masing, mengetahui jalur evakuasi, titik kumpul serta langkah yang harus dilakukan dalam kondisi darurat.
Seminar kebencanaan Apeksi Komwil I tersebut menjadi ruang berbagi pengalaman antarpemerintah kota mengenai strategi menghadapi ancaman bencana, termasuk upaya memperkuat koordinasi, mitigasi, kesiapsiagaan serta respons kedaruratan.
Fadly berharap kolaborasi antardaerah dapat terus diperkuat sehingga pengalaman dan praktik penanggulangan bencana yang telah dilakukan masing-masing kota dapat menjadi pembelajaran bersama.
“Yang paling penting adalah membangun budaya sadar bencana. Dengan kesiapan pemerintah, masyarakat dan seluruh stakeholder, risiko yang ditimbulkan bencana dapat diminimalkan,” tuturnya.
(Pd/red)
