![]() |
| Direktur Rumah Sakit Mata Sumatera Barat, Beniara Asmus, menyampaikan rencana pengembangan fasilitas medis untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat. |
Padang, MP----- Upaya meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan mata bagi masyarakat terus dilakukan Pemerintah Provinsi Sumatera Barat. Melalui pembangunan gedung Instalasi Gawat Darurat (IGD) di lingkungan Rumah Sakit Mata Sumatera Barat, Jalan Gajah Mada Nomor 28, Kelurahan Gunung Pangilun, Kota Padang, pemerintah berupaya memperkuat fasilitas pelayanan medis agar semakin mampu menjawab kebutuhan masyarakat.
![]() |
| Pembangunan gedung IGD Rumah Sakit Mata Sumatera Barat merupakan bagian dari upaya meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan bagi masyarakat. |
Direktur Rumah Sakit Mata Sumatera Barat, Ns. Beniara Asmus, S.Kep., M.Kes., menjelaskan bahwa pembangunan gedung IGD tersebut merupakan tahap pertama dari rencana pengembangan fasilitas rumah sakit secara bertahap. Pembangunan diharapkan menjadi bagian penting dalam meningkatkan kesiapan pelayanan, khususnya bagi pasien yang membutuhkan penanganan medis secara cepat dan tepat.
Menurut Beniara, pelaksanaan pembangunan melibatkan sejumlah pihak dengan tugas dan tanggung jawab masing-masing. CV Jasita Jaya bertindak sebagai kontraktor pelaksana, PT Delta Arsitektur Persada sebagai konsultan pengawas, sedangkan perencanaan ditangani PT Fasade Kobetama Internasional KSO PT Putra Aulia.
Dalam pelaksanaannya, proyek ini juga mendapat pendampingan teknis dari Harry Richardo selaku Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) pada Dinas Bina Marga, Cipta Karya dan Tata Ruang (BMCKTR) Provinsi Sumatera Barat. Pendampingan tersebut diperlukan agar pekerjaan konstruksi berjalan sesuai dokumen perencanaan, spesifikasi teknis, dan ketentuan yang berlaku.
Beniara mengungkapkan, pengembangan rumah sakit tidak berhenti pada pembangunan tahap pertama. Pemerintah Provinsi Sumatera Barat telah menganggarkan dana sebesar Rp41 miliar melalui Dinas BMCKTR untuk pembangunan tahap kedua pada tahun anggaran 2027.
Pada tahap lanjutan tersebut, pekerjaan direncanakan mencakup pembangunan ruang rawat jalan, ruang operasi, ruang rawat inap, serta berbagai fasilitas penunjang lainnya. Seluruhnya akan disesuaikan dengan master plan dan Detail Engineering Design (DED) yang telah disusun oleh tim perencana.
Ia menjelaskan, pengembangan rumah sakit membutuhkan perencanaan matang karena fasilitas pelayanan kesehatan memiliki persyaratan teknis dan operasional yang tidak sederhana. Selain ruang pelayanan utama, rumah sakit juga memerlukan sarana penunjang medis, instalasi gizi, radiologi, serta fasilitas perawatan intensif sesuai kebutuhan dan ketentuan yang berlaku.
“Pembangunan ini dilakukan secara bertahap. Kita juga harus memperhitungkan kebutuhan anggaran untuk melengkapi fasilitas rumah sakit sesuai standar. Karena itu, pekerjaan tahap kedua nantinya belum tentu menyelesaikan seluruh kebutuhan pengembangan,” jelas Beniara.
Dari sisi pelaksanaan, Beniara menyebutkan bahwa koordinasi awal melalui Pre-Construction Meeting (PCM) telah dilakukan bersama PPK, konsultan, dan pihak rumah sakit. Pertemuan tersebut menjadi langkah penting untuk menyamakan pemahaman mengenai perencanaan, pembagian tanggung jawab, serta target pelaksanaan pekerjaan.
Evaluasi terhadap progres pembangunan juga terus dilakukan. Menurutnya, sejumlah pekerjaan perlu dipercepat dan dipersiapkan dengan baik mengingat waktu pelaksanaan yang terbatas, dengan target penyelesaian pada Desember 2026.
Sementara itu, Syahrul selaku pelaksana lapangan menyampaikan bahwa progres pekerjaan saat ini telah mencapai sekitar 20 persen. Ia optimistis pembangunan dapat diselesaikan sesuai jadwal dengan tetap memperhatikan aspek teknis, tahapan pekerjaan, serta penggunaan material yang sesuai dengan spesifikasi.
Di lokasi yang sama, Rajis selaku konsultan pengawas menegaskan bahwa pengawasan dilakukan untuk memastikan pekerjaan konstruksi berjalan sesuai ketentuan teknis dan dokumen perencanaan.
Menanggapi masukan tim media mengenai selimut beton pada bagian kolom dan sloof, Rajesh menjelaskan bahwa beton yang digunakan memiliki mutu fc 20 atau setara dengan K-250. Penjelasan tersebut menjadi bagian dari informasi teknis yang perlu dicermati bersama, dengan tetap mengacu pada spesifikasi kontrak dan hasil pemeriksaan teknis di lapangan.
Pembangunan gedung IGD Rumah Sakit Mata Sumatera Barat diharapkan menjadi langkah nyata dalam memperkuat pelayanan kesehatan bagi masyarakat. Namun, keberhasilan proyek tidak hanya ditentukan oleh berdirinya bangunan, melainkan juga oleh kesesuaian mutu konstruksi, ketepatan waktu penyelesaian, serta kesiapan fasilitas untuk mendukung pelayanan medis.
Karena itu, sinergi antara pemerintah daerah, PPK, kontraktor pelaksana, konsultan perencana, konsultan pengawas, dan pihak rumah sakit menjadi bagian penting dalam memastikan pembangunan berjalan sesuai peruntukannya.
Pada akhirnya, masyarakat tentu berharap pengembangan Rumah Sakit Mata Sumatera Barat dapat menghadirkan fasilitas pelayanan yang semakin memadai, aman, dan nyaman. Dengan perencanaan yang baik serta pengawasan yang konsisten, pembangunan ini diharapkan memberikan manfaat nyata bagi pasien dan masyarakat yang membutuhkan pelayanan kesehatan mata.
(Rj.alam/MP)

