-->

Notification

×

Iklan

Iklan Display

Tanah Datar Bersiap Jadi Panggung Film Nasional, Budaya Lokal Ikut Terekam

Kamis, 08 Oktober 2026 | Oktober 08, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-10-07T22:38:21Z
Bupati Tanah Datar Eka Putra bersama sutradara Naya Anindita dan tim produksi Starvision membahas rencana syuting film “Dompet Ayah, Sepatu Ibu” di Tanah Datar.


Batusangkar, MP----- Kabupaten Tanah Datar kembali mendapat ruang untuk memperkenalkan kekayaan budaya dan pariwisatanya melalui industri perfilman nasional. Daerah yang dikenal sebagai salah satu pusat kebudayaan Minangkabau itu diproyeksikan menjadi salah satu lokasi pengambilan gambar film “Dompet Ayah, Sepatu Ibu”, produksi Starvision.


Rencana tersebut dibahas dalam pertemuan Bupati Tanah Datar Eka Putra bersama sutradara Naya Anindita dan tim produksi Starvision di Gedung Indo Jolito, Batusangkar, Senin (6/10/2026) malam.


Bagi Tanah Datar, kehadiran produksi film nasional tidak sekadar menyangkut kegiatan pengambilan gambar. Proyek tersebut dinilai membuka peluang promosi daerah sekaligus menggerakkan sektor ekonomi kreatif dengan melibatkan masyarakat dan pelaku usaha lokal.


Sutradara Naya Anindita mengatakan, Tanah Datar memiliki karakter budaya dan lanskap kehidupan masyarakat yang dinilai relevan dengan kebutuhan cerita film. Karena itu, tim produksi melakukan penjajakan sejumlah lokasi yang dapat merepresentasikan suasana cerita sekaligus memperkuat visual film.


“Dompet Ayah, Sepatu Ibu” diadaptasi dari novel karya J.S. Khairen yang mendapat perhatian luas sejak diterbitkan pada 2024. Novel tersebut disebut telah mencapai cetakan keenam dalam waktu kurang dari satu tahun dan berstatus mega best-seller.


Film ini mengangkat kisah perjuangan keluarga yang berusaha keluar dari kemiskinan melalui pendidikan. Ceritanya bersumber dari kisah autobiografis keluarga penulis, terutama perjuangan kedua orang tua dalam membangun kehidupan dan memutus mata rantai kemiskinan.


Naya menuturkan, karakter perjuangan tersebut tercermin dari sosok Zaina, seorang ibu yang berasal dari keluarga besar dan hanya menempuh pendidikan hingga sekolah dasar. Ia kemudian menjadi orang pertama di keluarganya yang menyelesaikan pendidikan tinggi, menjadi guru, sekaligus membantu membiayai pendidikan adik-adiknya.


Sementara sang ayah, Asrul atau Khairul Jasmi, juga tumbuh dari keluarga sederhana. Untuk membiayai pendidikan, ia pernah bekerja sebagai loper koran dan jurnalis lepas.


Menurut Naya, meski cerita film mengambil latar periode 1980-an hingga perkembangan kehidupan pada masa berikutnya, persoalan mengenai kemiskinan, pendidikan dan perjuangan meningkatkan taraf hidup keluarga masih memiliki relevansi.


“Walaupun ceritanya periodik tahun 80-an, dari tahun 80 sampai 2025 akar permasalahannya masih sama,” ujarnya.


Film tersebut juga diposisikan sebagai bentuk penghormatan seorang anak kepada kedua orang tuanya yang memasuki masa pensiun. Perjalanan dua orang dari keluarga miskin yang kemudian membangun rumah tangga hingga berhasil mengantarkan anaknya menempuh pendidikan di Universitas Indonesia menjadi inti emosional cerita.


160 Kru dan Potensi Ekonomi Lokal


Selain cerita, produksi film ini berpotensi membawa dampak ekonomi bagi masyarakat Tanah Datar. Tim produksi diperkirakan melibatkan sekitar 160 kru selama proses syuting.


Sejumlah sektor lokal seperti UMKM, homestay, penginapan, pengrajin hingga pelaku seni berpeluang memperoleh manfaat dari aktivitas produksi tersebut.


Tidak berhenti pada aspek ekonomi, unsur kebudayaan Tanah Datar juga direncanakan menjadi bagian dari film. Seni randai, tari tradisional, musik saluang serta berbagai potensi lokal lainnya akan diupayakan masuk dalam pengambilan gambar.


Naya berharap kehadiran unsur budaya tersebut tidak hanya memperkuat cerita, tetapi sekaligus memperkenalkan Tanah Datar kepada penonton yang lebih luas.


Rencana tersebut mendapat sambutan positif dari Bupati Tanah Datar Eka Putra. Pemerintah daerah menyatakan siap memberikan dukungan sesuai kewenangan dan ketentuan yang berlaku.


“Pemkab Tanah Datar sangat bangga dan akan memberikan dukungan penuh. Apalagi kalau masyarakat lokal dilibatkan, anak-anak muda Tanah Datar, UMKM, homestay, penginapan, pengrajin, semuanya akan berdampak langsung terhadap ekonomi masyarakat,” kata Eka.


Eka juga menginstruksikan organisasi perangkat daerah terkait untuk mendukung kelancaran proses produksi sesuai tugas dan kewenangannya.


Ia berharap kerja sama dengan industri perfilman tersebut dapat memberikan manfaat berkelanjutan. Selain menggerakkan ekonomi kreatif, film “Dompet Ayah, Sepatu Ibu” diharapkan menjadi media promosi bagi budaya, pariwisata, produk ekonomi kreatif, serta berbagai potensi Tanah Datar.


Dengan demikian, layar lebar tidak hanya menjadi ruang untuk menghadirkan sebuah cerita keluarga, tetapi juga dapat menjadi jendela yang memperkenalkan Tanah Datar kepada publik nasional, bahkan membuka peluang dikenal lebih luas di tingkat internasional.


(Bt/red)

×
Berita Terbaru Update