-->

Notification

×

Iklan

Iklan Display

Benarkah Banjir Bandang dan Longsor di Sumbar Murni Akibat Fenomena Alam? Ini Penjelasan Dinas Kehutanan

Sabtu, 13 Desember 2025 | Desember 13, 2025 WIB | 0 Views Last Updated 2025-12-13T00:17:09Z
Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni berdialog dengan Kepala Dinas Kehutanan Sumbar, Ferdinal Asmin, saat meninjau dampak banjir bandang di wilayah Sumatera Barat.

Padang, MP----- Setelah rangkaian banjir bandang dan longsor menghantam Kota Padang dan sejumlah daerah di Sumatera Barat, Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni turun langsung ke lapangan untuk menelisik penyebab bencana. Pertanyaan besar pun mengemuka: benarkah bencana yang merusak ribuan rumah dan fasilitas umum itu murni akibat fenomena alam?


Menjawab hal tersebut, awak media melakukan wawancara khusus bersama Kepala Dinas Kehutanan Sumatera Barat, Dr. Ferdinal Asmin, S.TP, MP, pada Jumat (12/12). Ia memaparkan hasil pengecekan lapangan yang telah dilakukan bersama Menhut serta tim teknis kehutanan.


Banjir dan Longsor Dipicu Aktivitas di Hulu? Ini Kata Dinas Kehutanan


Ferdinal menyebut bahwa bencana besar yang terjadi beberapa hari terakhir dipicu dari kawasan hulu Daerah Aliran Sungai (DAS), terutama, DAS Kuranji di Kota Padang, dan DAS Lareh Si Aie di Kabupaten Agam.



“Setelah kami croscek di lapangan, tebing - tebing sungai pada hulu DAS tergerus oleh luncuran air bah dari anak - anak sungai di perbukitan. Material pasir, batu, kerikil (Sirtukil), bahkan kayu tercerabut terbawa ke hilir,” jelasnya.


Ia menegaskan bahwa kawasan yang longsor masih berupa hutan primer, tanpa indikasi pembukaan lahan besar - besaran. “Kami sudah cek dengan citra satelit. Aktivitas pembukaan lahan tidak terlihat. Lahan masih merupakan hutan alam atau hutan primer,” tambahnya.


Kenapa Longsor Terjadi? Curah Hujan Ekstrem & Lereng Curam


Ferdinal menjelaskan dua faktor utama pemicu longsor yaitu curah hujan ekstrem, jauh di atas normal, dan kelerengan bukit yang sangat curam.


“Kombinasi keduanya membuat air bah meluncur sangat cepat dari puncak perbukitan, menghantam tebing anak sungai, menyeret material Sirtukil dan kayu hingga ke hilir,” katanya.


Soal Kayu Bekas Gergajian yang Terdampar di Pantai


Banyak warga mempertanyakan asal-usul kayu yang ditemukan di pantai setelah banjir bandang. Terkait itu, Ferdinal memberikan klarifikasi tegas. “Sudah kami cek bersama Menhut. Banyak kayu yang terdampar masih memiliki panel akar. Itu menandakan kayu tersebut tercabut oleh longsoran di hulu dan terbawa hingga muara,” jelasnya.


Namun ia tidak menutup kemungkinan ada sebagian kayu yang berasal dari perladangan masyarakat. “Kami sampaikan dengan terbuka: memang ada aktivitas perladangan masyarakat, tapi bukan di hulu. Jadi sebagian kayu di pantai bisa berasal dari wilayah tengah atau hilir DAS,” tegasnya.


Alur Longsoran: Dari 1.300 mdpl Menghantam Permukiman di 157 mdpl


Dengan perbedaan ketinggian yang ekstrem, material longsor meluncur dari puncak 1.300 mdpl, menempuh jarak sekitar 11 kilometer, lalu menghantam kawasan permukiman masyarakat yang berada di ketinggian 157 mdpl.


Tekanan air bah, menurut Ferdinal, sejalan dengan pernyataan Menteri Lingkungan Hidup Dr. Hanif Faisol Nurafiq yang turut meninjau lokasi. “Debit air dari hulu luar biasa besar saat hujan ekstrem turun. Kombinasi tekanan air dari hulu dan limpahan dari hilir menyebabkan kerusakan hebat,” ujarnya.


Dinas Kehutanan Tunggu Investigasi Satgas PKH dan Polri


Ferdinal menegaskan bahwa pihaknya sudah menjelaskan kronologi teknis kepada Satgas Penegakan Hukum Lingkungan Hidup dan Kehutanan (PKH) serta Polri, yang kini sedang melakukan investigasi resmi. “Kami tidak ingin mendahului hasil investigasi. Semua sudah kami sampaikan secara rinci kepada tim,” tutupnya.

(Obral Chaniago)

×
Berita Terbaru Update