![]() |
| Suasana peluncuran tujuh buku karya insan pers dalam rangka Hari Pers Nasional 2026 di Kota Serang, menegaskan komitmen pers menjaga tradisi literasi. |
Serang, MP----- Peringatan Hari Pers Nasional (HPN) 2026 di Kota Serang tidak berhenti pada seremoni. Dari Ballroom Hotel Aston, Minggu (8/2), insan pers justru mengirim pesan kuat: di tengah banjir informasi instan, pers tetap memilih jalan literasi. Pesan itu ditegaskan lewat peluncuran tujuh buku yang merekam wajah jurnalistik Indonesia dari berbagai sudut, sejarah, budaya, refleksi profesi, hingga kearifan lokal.
Peluncuran buku tersebut menjadi penanda bahwa pers nasional tidak hanya hadir sebagai penyampai kabar cepat, tetapi juga sebagai penjaga ingatan dan penafsir zaman. Dua di antaranya secara khusus mengangkat kekayaan lokal Banten, yakni kehidupan masyarakat adat Baduy serta kuliner tradisional Jojorong, sebuah penegasan bahwa kerja jurnalistik juga berfungsi merawat identitas dan akar budaya.
Tujuh buku yang diluncurkan meliputi Langkah Sunyi Menuju Puncak, Belajar Mencintai dari Kearifan Baduy, Wajah Pers Indonesia Kini dan Esok, Melawat ke Talawi, Tapak Langkah Wartawan Adinegoro, Anugerah Jurnalistik Adinegoro 2025, Jojorong, Kuliner Tradisional Khas Banten, serta Panggil Saya Tommy.
Buku Langkah Sunyi Menuju Puncak sendiri merupakan biografi Ketua Umum PWI Pusat, Akhmad Munir. Menurut Munir, peluncuran tujuh buku ini mencerminkan keberagaman wajah pers Indonesia, dari profesionalisme, sejarah perjuangan jurnalistik, hingga upaya merawat kearifan lokal di tengah modernitas.
“Kepercayaan publik tidak lahir dari kecepatan semata, tetapi dari karya yang ditulis dengan pengetahuan, empati, dan tanggung jawab. Buku-buku ini menjadi bukti bahwa wartawan PWI tidak berhenti berpikir jauh ke depan,” ujar Munir, yang juga menjabat Ketua Dewan Pengawas LKBN Antara.
Ia menegaskan, literasi merupakan benteng terakhir pers di tengah derasnya arus informasi instan yang sering kali mengorbankan akurasi dan makna. Jurnalisme, kata Munir, menuntut ketajaman analisis, kedalaman perspektif, serta tanggung jawab moral terhadap sejarah dan masa depan bangsa.
Keberhasilan penyelenggaraan HPN 2026 di Banten tidak terlepas dari dukungan berbagai sponsor besar, mulai dari Artha Graha Peduli, Astra International, BCA, Pertamina, GAPKI, Triputra Group, Djarum, PLN, Harita Nickel, BRI, Freeport Indonesia, EMTEK, hingga deretan BUMN, perbankan, dan korporasi nasional lainnya.
Dengan peluncuran tujuh buku tersebut, HPN 2026 di Serang tercatat bukan sekadar perayaan tahunan pers, melainkan momentum penting yang menegaskan kembali peran wartawan sebagai penjaga literasi, penafsir realitas, dan penulis sejarah bangsa.
(Rajo Alam/sr)
