-->

Notification

×

Iklan

Iklan Display

Perjalanan Singkat Berujung Hangatnya Berbuka di Rumah Makan Pondok Bangau Putih

Jumat, 27 Februari 2026 | Februari 27, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-02-27T05:48:26Z
Darmen Rajo Alam bersama istri dan saudaranya menikmati hidangan berbuka puasa di tengah hujan di Rumah Makan Pondok Bangau Putih, Kamis (27/2/2026).

Padang, MP----- Perjalanan dari Padang Pariaman menuju Kota Padang pada Kamis (27/2/2026) menjadi momen sederhana namun berkesan bagi Darmen Rajo Alam bersama istri dan saudaranya. Usai menuntaskan sejumlah keperluan, mereka memutuskan menutup hari dengan berbuka puasa di Rumah Makan Pondok Bangau Putih, rumah makan yang dikenal dengan sajian masakan kampung khas Ranah Minang dan panorama pantai yang menenangkan.

Sebelum berangkat, Darmen menghubungi Jon, pengelola rumah makan, untuk memastikan rumah makan buka di bulan Ramadhan dan menyediakan tempat berbuka. Jon memastikan warungnya tetap buka dan siap melayani masyarakat yang ingin berbuka puasa bersama keluarga di bulan Ramadan.

Menjelang Magrib, langit Muaro Gantiang yang sejak sore mendung akhirnya menurunkan hujan deras, disertai hembusan angin yang lumayan kencang dari arah pantai. Suasana menjadi syahdu. Suara rintik hujan yang menghantam atap berpadu dengan aroma masakan kampung yang mengepul hangat dari dapur.

Di atas meja, beragam menu tersaji menggugah selera. Mulai dari rebus petai uwok lado dengan perpaduan goreng bada (ikan kecil), ayam goreng, gulai cumi, gulai ikan, gulai udang, ikan bakar, hingga aneka sambal khas Minang yang pedasnya menggigit namun nikmat di lidah.

Melda yang sejak lama ingin datang ke tempat ini tampak begitu lahap menyantap hidangan. Sesekali ia tersenyum sambil menambah sambal ke piringnya. “Ini yang saya tunggu - tunggu. Sambalnya beragam, rasanya otentik sekali. Petai uwok ladonya pas, apalagi dipadukan dengan goreng bada dan gulai cumi. Nikmatnya terasa sampai ke hati,” ujarnya penuh antusias.

Reni, istri Darmen, yang sudah beberapa kali berkunjung ke sana juga mengakui konsistensi cita rasa rumah makan tersebut. “Bumbu kampungnya terasa kuat, tidak berubah dari dulu. Harganya pun masih terjangkau, jadi nyaman untuk keluarga,” katanya.

Denting gelas berisi air minum dan kurma menjadi penanda waktu berbuka. Di tengah guyuran hujan dan angin pantai yang berembus cukup kencang, kehangatan keluarga justru terasa semakin erat. Usai berbuka, mereka melanjutkan ibadah sholat Magrib di masjid yang berada tidak jauh dari lokasi rumah makan, menambah kesempurnaan suasana Ramadan sore itu.

Bagi Darmen, momen tersebut bukan sekadar berbuka puasa, tetapi juga tentang kebersamaan dan rasa syukur. “Hujan deras sore itu justru membuat suasana lebih berkesan. Makan bersama keluarga, lalu bisa langsung sholat berjamaah di masjid dekat sini, rasanya lengkap,” tuturnya.

Perjalanan singkat dari Padang Pariaman pun berujung pada pengalaman yang membekas. Di tengah hujan dan angin pantai, cita rasa masakan kampung serta kehangatan keluarga menjadi cerita sederhana yang sarat makna.

(Red)

×
Berita Terbaru Update