-->

Notification

×

Iklan

Iklan Display

Arus Balik Bakauheni Disorot, Antrean dan Skema Percepatan Diuji

Minggu, 29 Maret 2026 | Maret 29, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-03-29T00:59:01Z
Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi bersama Kapolri Listyo Sigit Prabowo meninjau langsung arus balik di Pelabuhan Bakauheni.

Lampung Selatan, MP----- Lonjakan arus balik Lebaran 2026 di Pelabuhan Bakauheni kembali menjadi ujian bagi manajemen penyeberangan nasional. Di tengah antrean kendaraan yang mengular, Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi bersama Kapolri Listyo Sigit Prabowo turun langsung meninjau operasi lapangan, memastikan skema percepatan berjalan dan mengidentifikasi titik rawan kepadatan.

Antrean kendaraan pemudik mengular memasuki area pelabuhan saat puncak arus balik Lebaran 2026.

Sejak pagi, arus kendaraan pribadi dan bus antarkota tampak padat memasuki kawasan pelabuhan. Sejumlah pemudik mengaku telah menunggu berjam - jam sebelum mendapat giliran naik kapal. Situasi ini memunculkan pertanyaan klasik, sejauh mana kesiapan sistem mampu merespons lonjakan musiman yang selalu berulang setiap tahun?

“Kami sudah menyiapkan langkah-langkah antisipatif, mulai dari buffer zone hingga percepatan sistem TBB (tiba - bongkar - berangkat). Kapal tambahan juga dioperasikan untuk mengurai kepadatan,” ujar Dudy Purwagandhi saat meninjau dermaga.

Namun di lapangan, sejumlah pemudik menyampaikan pengalaman berbeda. Rudi (38), pemudik asal Palembang, mengaku harus menunggu lebih dari lima jam. “Katanya sudah diatur, tapi tetap saja macet panjang. Kami berharap ada kepastian waktu naik kapal,” ujarnya. Hal senada disampaikan Siti (29), yang membawa dua anak kecil. Ia menilai fasilitas di area tunggu masih perlu ditingkatkan, terutama saat puncak arus balik.

Kapolri Listyo Sigit Prabowo menegaskan pihaknya telah menempatkan personel di sejumlah titik krusial untuk mengurai kepadatan dan memastikan kelancaran lalu lintas menuju pelabuhan. “Rekayasa lalu lintas terus dilakukan secara situasional. Kami berupaya agar distribusi kendaraan ke pelabuhan lebih merata dan tidak menumpuk di satu titik,” tegasnya.

Di sisi lain, investigasi di lapangan menunjukkan bahwa bottleneck masih terjadi pada proses bongkar muat kapal dan distribusi kendaraan menuju dermaga aktif. Meskipun skema TBB diklaim mampu mempercepat siklus kapal, implementasinya belum sepenuhnya optimal ketika volume kendaraan melonjak drastis dalam waktu bersamaan.

Kementerian Perhubungan juga memastikan kesiapan di lintasan lain, termasuk Ketapang - Gilimanuk. Namun, pola persoalan yang serupa lonjakan volume, keterbatasan dermaga, dan manajemen antrean masih menjadi pekerjaan rumah tahunan.

Arus balik Lebaran bukan sekadar pergerakan manusia, tetapi juga cerminan kapasitas sistem transportasi nasional. Di Bakauheni, upaya percepatan sudah dijalankan, namun ekspektasi publik terhadap layanan yang cepat, pasti, dan nyaman masih menjadi tantangan yang belum sepenuhnya terjawab.

(Lp/red)

×
Berita Terbaru Update