![]() |
| Gubernur NTT memanen jagung bersama petani di Amarasi Selatan. |
Kupang, MP----- Hamparan jagung menguning di Kelurahan Buraen, Kecamatan Amarasi Selatan, menjadi saksi dorongan baru bagi petani untuk naik kelas. Gubernur Nusa Tenggara Timur, Emanuel Melkiades Laka Lena, turun langsung menghadiri panen raya yang digelar Kelompok Tani Nonotasi, Kamis sore (26/3/2026).
![]() |
| Dialog gubernur dengan petani terkait peningkatan produksi dan pemasaran. |
Panen tahap awal dilakukan di lahan seluas 5 hektare dari total 25 hektare yang dikelola kelompok tani tersebut. Ratusan petani dan penyuluh pertanian lapangan ikut menyaksikan momentum yang tak sekadar panen, tetapi juga penegasan arah kebijakan pertanian daerah.
Didampingi sejumlah kepala dinas, kehadiran gubernur disambut Bupati Kupang, Yosef Lede, yang lebih dulu tiba bersama jajaran pemerintah kabupaten.
Dalam sambutannya, Gubernur Melki menegaskan peran daerah sebagai ujung tombak program nasional, terutama dalam mewujudkan kemandirian pangan. Ia mengingatkan, di tengah ketidakpastian global, sektor pertanian menjadi penyangga utama stabilitas daerah.
“Ketahanan pangan adalah kunci. Kita punya tanah subur, ini harus dimanfaatkan maksimal,” ujarnya di hadapan petani.
Ia juga menyoroti potensi besar Kabupaten Kupang yang didukung keberadaan tiga bendungan. Menurutnya, potensi tersebut akan sia - sia jika tidak dioptimalkan untuk mendongkrak produksi dan kesejahteraan petani.
Lebih jauh, Gubernur mendorong perubahan pola pikir petani dari sekadar produksi ke orientasi nilai tambah. Jagung, katanya, tidak cukup hanya dipanen dan dijual mentah, tetapi perlu diolah dan dikemas agar memiliki daya saing di pasar.
“Petani harus mulai berpikir hilirisasi. Tanam, panen, olah, kemas, baru jual,” tegasnya.
Ia memastikan, selain Bulog sebagai penyerap utama, peluang pemasaran juga terbuka melalui jaringan toko dan pasar lokal yang didukung pemerintah, asalkan produk sudah memenuhi standar kemasan.
Bupati Kupang, Yosef Lede, menyebut kehadiran gubernur sebagai bukti nyata dukungan pemerintah terhadap petani. Ia menilai semangat masyarakat Amarasi Selatan sangat besar untuk berkembang, terutama dengan mulai beralihnya pemanfaatan lahan ke sektor pertanian jagung.
Saat ini, sekitar 140 hektare lahan di wilayah tersebut telah ditanami jagung. Pemerintah daerah, kata Yosef, siap mendukung melalui penyediaan alat dan mesin pertanian, serta pendampingan intensif.
“Kami pastikan petani tidak berjalan sendiri. Apa yang dibutuhkan untuk meningkatkan produksi, akan kami fasilitasi,” ujarnya.
Ia juga menegaskan pentingnya kepastian pasar, dengan mendorong koordinasi bersama Bulog agar hasil panen petani terserap sesuai harga yang ditetapkan pemerintah.
Di sisi lain, petani masih menghadapi tantangan klasik: ketergantungan pada curah hujan. Ketua Kelompok Tani Nonotasi, Monico Tnunay, berharap adanya pembangunan embung mini untuk menjamin ketersediaan air.
Permintaan itu langsung direspons pemerintah daerah. Bupati memastikan kesiapan menurunkan alat berat dalam waktu dekat, selama lahan yang disiapkan tidak berada di kawasan hutan.
Panen raya ini bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan penanda transformasi pertanian di NTT, dari produksi tradisional menuju sistem agribisnis yang berorientasi pasar dan nilai tambah.
(Nt/red)

