-->

Notification

×

Iklan

Iklan Display

Satu Juz Ubah Nasib, Fauzi Bahar Ajak Generasi Cinta Al-Qur’an

Rabu, 04 Maret 2026 | Maret 04, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-03-04T00:41:29Z
Prof. Fauzi Bahar berbagi kisah inspiratif tentang pemuda Kuranji yang sukses menuntaskan studi di Universitas Gadjah Mada berbekal hafalan satu juz Al-Qur’an.

Padang, MP----- Ketua Umum LKAAM Sumbar, Prof. Drs. H. Fauzi Bahar, Datuk Nan Sati, MSi, mengajak generasi muda kembali menempatkan Al-Qur’an sebagai fondasi utama pendidikan dan pembentukan karakter. Seruan itu ia sampaikan saat silaturrahmi dan berbuka puasa bersama puluhan jurnalis yang tergabung dalam Kolaborasi Jurnalis Indonesia (KJI) dan Ikatan Keluarga Wartawan Republik Indonesia (IKWRI) di kediamannya, Jalan Gajah Mada, Padang, Selasa (3/3/2026).

Dalam suasana hangat dan penuh keakraban, Fauzi mengisahkan perjalanan seorang pemuda asal Kuranji pada era 1984–1985. Anak ketiga dari enam bersaudara itu hidup dalam keterbatasan ekonomi dan memilih tinggal di surau sebagai garin. Di tempat sederhana itulah ia menghafal Juz Amma.

“Ini bukti, ya Allah, Al-Qur’an bikin anak cerdas,” ujar Fauzi di hadapan para jurnalis.

Berbekal hafalan satu juz dan tekad kuat, pemuda tersebut lulus masuk Universitas Gadjah Mada (UGM). Namun keterbatasan biaya membuat sang ibu menangis karena tak mampu membiayai keberangkatannya ke Yogyakarta.

Tak menyerah, ia menumpang truk barang dari Padang menuju Jakarta dengan perjalanan hampir satu minggu akibat kondisi jalan yang rusak pada masa itu. Setibanya di Tanah Abang, ia berjalan kaki ke Stasiun Gambir karena tak memiliki ongkos becak, lalu menumpang kereta pengangkut sayur selama 24 jam menuju Yogyakarta.

Sesampainya di kota pelajar, tanpa uang dan saudara, ia mencari masjid dan menawarkan diri menjadi marbot. Saat diuji membaca Al-Qur’an, hafalan satu juz membuatnya dipercaya menjadi asisten imam. Ia memperoleh tempat tinggal, makan, serta penghasilan bulanan hingga akhirnya menyelesaikan pendidikan sarjananya.

“Dia selesaikan kuliahnya dengan satu juz Amma. Al-Qur’an itu bukan hanya bacaan, tapi kekuatan hidup,” tegas Fauzi.

Ia juga menyoroti tantangan era digital. Menurutnya, anak - anak memiliki daya ingat luar biasa. Jika lagu dapat cepat dihafal, maka surat - surat pendek Al-Qur’an pun seharusnya tidak sulit.

“Satu bulan satu surat, sepuluh bulan sepuluh surat. Beratkah itu?” tanyanya retoris.

Fauzi mendorong peran orang tua, khususnya ibu, sebagai pengawas utama di rumah dalam membatasi penggunaan gawai dan membiasakan hafalan Al-Qur’an sejak dini. Ia juga mengajak insan pers untuk menyebarkan narasi yang membangun karakter generasi muda.

Silaturrahmi itu tak sekadar menjadi ajang berbuka puasa, tetapi momentum refleksi tentang pentingnya pendidikan berbasis nilai Qur’ani di tengah derasnya arus teknologi.

(Red)

×
Berita Terbaru Update