![]() |
| Rigid beton di bahu jalan retak dan aspal badan jalan hancur di ruas Kampung Olo, Bungus Teluk Kabung, akibat tekanan kendaraan bertonase tinggi. (Ft. Kamis 23 April 2026) |
Padang, MP----- Suara warga Kampung Olo, Kelurahan Teluk Kabung Tengah, Kecamatan Bungus Teluk Kabung, Kota Padang, tak lagi sekadar keluhan harian. Ia menjelma menjadi rangkaian kesaksian panjang tentang jalan yang kian rapuh, udara yang dipenuhi debu, dan lalu lintas truk bertonase besar melebihi stadart jalan bebas melintas hampir tanpa jeda. Kondisi yang dikeluhkan warga itu telah sering dan terus bergulir menjadi topik berita diberbagai media, namun masih kurang mendapat atensi dari pemerintah ?.
![]() |
| Kerusakan aspal badan jalan terlihat di sejumlah titik di ruas Kampung Olo, Bungus Teluk Kabung, membahayakan pengguna jalan. |
Di ruas jalan provinsi yang menghubungkan Teluk Kabung Tengah hingga simpang menuju PLTU Teluk Sirih, realitas di lapangan menunjukkan ketimpangan mencolok antara kapasitas jalan dan beban yang dipikulnya. Jalan dengan standar tonase sekitar 8 ton, menurut pengakuan warga dan hasil penelusuran di lapangan, rutin dilalui truk pengangkut batu bara dengan muatan yang disebut-sebut mencapai hingga 45 ton.
“Setiap hari kami lihat sendiri. Jalan baru diperbaiki, tak lama rusak lagi. Debu juga masuk ke rumah,” ujar seorang warga yang ditemui di pinggir jalan, sembari menunjuk permukaan aspal yang mulai mengelupas dan berlubang di sejumlah titik.
Akses Wisata Terganggu, Kekhawatiran Meningkat
Tak hanya menjadi jalur distribusi industri, ruas jalan ini juga merupakan akses utama menuju kawasan wisata Kawasan Wisata Mandeh, destinasi unggulan Sumatera Barat yang dikenal dengan panorama laut dan gugusan pulau.
Namun, kondisi jalan yang menanjak tajam dan berkelok-kelok kini menghadirkan tantangan tersendiri bagi pengendara, khususnya wisatawan. Berdasarkan penelusuran media di lapangan dan keterangan warga, truk-truk bermuatan batu bara dengan kapasitas melebihi tonase kerap melintasi jalur tersebut, bahkan di segmen tanjakan ekstrem.
Situasi ini memicu rasa cemas bagi pengguna jalan. Beberapa warga mengungkapkan adanya kejadian truk gagal menanjak hingga terguling di ruas tertentu. Peristiwa semacam itu, meski tidak selalu terjadi, cukup membekas di ingatan masyarakat dan pengendara.
“Kalau berpapasan dengan truk di tanjakan, apalagi tikungan, itu sangat menegangkan. Kami takut terjadi kecelakaan,” kata seorang pengendara yang rutin melintas di jalur tersebut.
Dampaknya tidak hanya dirasakan warga lokal, tetapi juga wisatawan. Sejumlah pelaku usaha kecil di sekitar jalur mengaku kunjungan wisata cenderung terpengaruh karena faktor keamanan dan kenyamanan perjalanan. Rasa trauma dan kekhawatiran menjadi pertimbangan tersendiri bagi calon pengunjung.
Kerusakan Berulang, Perbaikan Tak Tuntas
Dari pengamatan di lapangan, kerusakan jalan tampak berpola, tambalan aspal yang belum lama dikerjakan kembali terkelupas, menyisakan lubang memanjang yang berpotensi membahayakan pengendara. Di beberapa titik, badan jalan terlihat bergelombang akibat tekanan beban berat yang berulang.
Warga menilai, selama truk bertonase tinggi tetap melintas, perbaikan apa pun hanya bersifat sementara. “Ini seperti lingkaran yang tidak putus. Diperbaiki, rusak lagi. Kami yang menanggung dampaknya,” kata warga lainnya.
Selain kerusakan fisik jalan, persoalan debu juga menjadi keluhan utama. Saat cuaca kering, partikel halus beterbangan setiap kali truk melintas. Kondisi ini tidak hanya mengganggu kenyamanan, tetapi juga dikhawatirkan berdampak pada kesehatan masyarakat, terutama anak-anak dan lansia.
Peran Perusahaan dan Tanggung Jawab Bersama
Dalam konteks ini, PT SAE sebagai pemasok batu bara ke PLTU Teluk Sirih disebut warga sebagai pihak yang aktivitasnya paling dominan di jalur tersebut. Perusahaan diketahui telah menyanggupi perbaikan jalan yang terdampak.
Namun, berdasarkan temuan di lapangan dan pandangan masyarakat, komitmen perbaikan itu dinilai belum menyentuh akar persoalan. Selama kendaraan dengan muatan jauh di atas kapasitas jalan tetap beroperasi, kerusakan dinilai akan terus berulang.
Pendekatan tambal-sulam tanpa pengendalian tonase, menurut sejumlah pengamat transportasi, berisiko hanya memindahkan masalah dari satu titik ke titik lain, tanpa solusi jangka panjang.
Respons Pemerintah: Kewenangan yang Terbatas
Kepala Dinas Bina Marga, Cipta Karya, dan Tata Ruang (BMCKTR) Provinsi Sumatera Barat, Armizoprades, ST, MT, menyampaikan bahwa telah ada perbaikan di ruas Bungus hingga simpang PLTU Teluk Sirih sebelum Lebaran dan menilai kondisi jalan sempat dalam keadaan baik.
“Jika ada kerusakan, tentu akan kami perbaiki. Kami juga akan turun kembali untuk pengecekan,” ujarnya saat dikonfirmasi, Kamis (23/4).
Namun, ia menegaskan bahwa persoalan pelanggaran tonase bukan berada dalam ranah kewenangan dinasnya. Penegakan hukum terhadap kendaraan yang melebihi kapasitas jalan menjadi tanggung jawab instansi lain.
Pernyataan ini memperlihatkan adanya batas kewenangan antar lembaga yang, dalam praktiknya di lapangan, berpotensi memperlambat penanganan menyeluruh.
Usulan Jalan Alternatif dan Tantangan Realisasi
Salah satu harapan yang mengemuka dari masyarakat adalah pembangunan jalur alternatif khusus bagi truk pengangkut batu bara. Gagasan ini dinilai dapat memisahkan lalu lintas industri dari aktivitas warga dan wisatawan.
Menanggapi hal tersebut, Armizoprades menyatakan akan melakukan peninjauan lapangan lebih lanjut. Namun, realisasi jalan alternatif tentu memerlukan kajian teknis, pembebasan lahan, serta koordinasi lintas sektor yang tidak sederhana.
Di Persimpangan Kepentingan
Situasi di Teluk Kabung Tengah memperlihatkan benturan antara kebutuhan distribusi energi, keselamatan pengguna jalan, dan keberlanjutan sektor pariwisata. Jalur yang sama kini memikul tiga fungsi sekaligus, akses warga, jalur logistik industri, dan pintu gerbang wisata.
Tanpa penataan yang terintegrasi, mulai dari pengawasan tonase, peningkatan kualitas infrastruktur sesuai beban, hingga kemungkinan pembangunan jalur khusus, persoalan ini berpotensi terus berulang.
Di Kampung Olo, jalan bukan sekadar infrastruktur. Ia adalah urat nadi kehidupan sekaligus jalur menuju harapan ekonomi dari sektor wisata. Dan ketika urat nadi itu terus tergerus, yang terdengar bukan lagi sekadar keluhan, melainkan peringatan yang menuntut solusi nyata.
(Rj/MT/Red)

