![]() |
| Kepala Dinas BMCKTR Sumbar, Armizoprades, dan Obral Chaniago Jurnalis juga masyarakat Bayang |
Padang, MP----- "Arang habiah, basi binaso". Pribahasa Minang ini rasanya pas menggambarkan gundah gulana masyarakat Pesisir Selatan dan Solok saat ini. Betapa tidak, impian masyarakat yang akhirnya diwujudkan pemerintah-jalan pintas Bayang-Alahan Panjang yang memangkas waktu tempuh dari 4 jam menjadi 40 menit-kini menjelma menjadi lintasan "maut" yang merenggut nyawa.
Sebagai jurnalis yang mengamati dinamika infrastruktur Sumbar, data per April 2025 sebenarnya menunjukkan komitmen serius Pemprov Sumbar. Melalui Dinas BMCKTR alokasi Rp 38 miliar dikucurkan untuk menuntaskan sisa 5,6 km dari total 52 km jalan strategis ini. Targetnya tegas, ditambah upaya lobi ke pusat (APBN) untuk mitigasi kawasan rawan bencana.
Namun, alam berkata lain. Bencana akhir Nopember 2025 seolah menampar keras upaya perbaikan tersebut. Jalan yang sempat mulus pengaspalannya, hancur kembali akibat longsor dan badan jalan amblas. "Rusak parah kembali, tidak bisa dilewati, "lapor tim lapangan". Estimasi kerugian membengkak hingga Rp 70-75 miliar.
Tantangan di Puncak Juna dan Kelok S
Di balik ambisi memangkas waktu tempuh, ruas ini menyimpan "monster" teknis. Ada setidaknya 5 titik tanjakan ekstrem-termasuk Puncak Juna, Binuang, dan Kelok S-yang menjadi momok. Pemandangan sehari-hari di media sosial seringkali dihiasi laporan kecelakaan, tanah longsor, dan material yang menimbun jalan.
Obral Chaniago, warga asal Bayang, Pesisir Selatan, menyuarakan keluhan mendasar: perbaikan bukan sekadar pengaspalan, tapi penjinakan kontur. "Kami berharap tanjakan ekstrem dipangkas agar landai, bukan vertikal membahayakan," tuturnya.
Ketakutan warga beralasan. Tanjakan curam yang berpapasan langsung dengan jurang terjal membuat jalan ini menjadi taruhan nyawa, bukan sekadar urat nadi ekonomi.
"Minyak habiah, samba tak lamak". Puluhan miliar rupiah APBD seolah sia-sia jika yang dijumpai pengendara hanyalah jurang dan bahaya.
Harapan dan "Jodoh" yang Tertunda
Meski dihantam bencana, optimisme tidak boleh padam. Kepala Dinas BMCKTR Sumbar, Armizoprades, dalam bincang khusus menekankan bahwa perbaikan permanen terus diupayakan sepanjang awal 2026. Sinergi dengan Balai Pelaksana Jalan Nasional (BPJN) Sumbar pimpinan Elsa Putra Friandi sangat krusial, mengingat kerusakan melampaui estimasi awal.
Jika tantangan teknis ini bisa diatasi, Bayang-Alahan Panjang adalah "game changer". Bayangkan, sayur mayur segar dari Alahan Panjang bisa sampai di Pesisir Selatan, dan sebaliknya, ikan laut segar sampai di Solok dalam 40 menit. Ini adalah perjumpaan ekonomi: "asam di gunung, ikan di laut, bertemu di ruas jalan baru".
Rakyat merindukan jalan ini. Tapi, rakyat lebih merindukan keamanan. Perbaikan pasca-bencana 2025 ini harus melahirkan "jodoh" yang pas: jalan yang tidak hanya cepat, tapi aman dan nyaman, bukan jalan yang "berbayar" dengan nyawa.
(Obral Chaniago/red)
