-->

Notification

×

Iklan

Iklan Display

Dharmasraya Bidik PSN dan Feeder Toll, Sumbar Pacu Kawasan Industri Sawit Terintegrasi

Kamis, 28 Mei 2026 | Mei 28, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-05-28T11:59:54Z
Wakil Gubernur Sumbar Vasko Ruseimy bersama Bupati Dharmasraya Annisa Suci Ramadhani berfoto bersama Menteri PPN/Kepala Bappenas RI Rachmat Pambudy usai audiensi membahas usulan PSN dan pembangunan feeder toll Dharmasraya di Kantor Bappenas, Jakarta.


Jakarta, MP----- Pemerintah Provinsi Sumatera Barat bersama Pemerintah Kabupaten Dharmasraya mulai mengakselerasi agenda besar pembangunan kawasan timur Sumbar. Melalui audiensi resmi dengan Kementerian PPN/Bappenas RI, Selasa (19/5/2026), Wakil Gubernur Sumbar Vasko Ruseimy dan Bupati Dharmasraya Annisa Suci Ramadhani mengusulkan Kabupaten Dharmasraya masuk dalam daftar Program Strategis Nasional (PSN), sekaligus mendorong pembangunan feeder toll yang terhubung dengan jaringan Jalan Tol Trans Sumatera.


Audiensi yang diterima langsung Menteri PPN/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy itu turut dihadiri Bupati Sijunjung Benny Dwifa serta Sekretaris Daerah Dharmasraya, Medison. Pertemuan tersebut menjadi momentum penting bagi Sumatera Barat dalam memperkuat konektivitas logistik, mempercepat hilirisasi industri sawit, serta membuka simpul pertumbuhan ekonomi baru di kawasan timur provinsi.


Dalam paparannya, Bupati Annisa menawarkan konsep pembangunan Kawasan Industri Terintegrasi Sawit dan Agro Dharmasraya seluas 500 hektare di Nagari Sungai Duo. Kawasan itu dirancang sebagai pusat hilirisasi minyak sawit mentah (CPO), industri oleokimia, hingga pengembangan industri pakan ternak berbasis agro.


Menurut Annisa, proyek tersebut diproyeksikan mampu menarik investasi sekitar Rp3,2 triliun dan membuka sedikitnya 2.500 lapangan kerja baru bagi masyarakat. Ia menilai, keberadaan kawasan industri terintegrasi akan menjadi jawaban atas kebutuhan hilirisasi komoditas unggulan Sumatera Barat yang selama ini masih bergantung pada distribusi bahan mentah ke luar daerah.


“Dharmasraya memiliki posisi strategis sebagai gerbang logistik Sumbar bagian timur. Bahkan bisa disebut sebagai Selat Hormus-nya Sumbar karena menjadi jalur utama distribusi barang dan komoditas lintas provinsi,” ujar Annisa dalam forum tersebut.


Selain usulan PSN, perhatian besar juga diarahkan pada rencana pembangunan feeder toll sepanjang sekitar 139 kilometer yang menghubungkan Koto Baru, Dharmasraya menuju akses Tol Rengat–Pekanbaru di Kabupaten Kuantan Singingi, Provinsi Riau. Infrastruktur itu dipandang menjadi kebutuhan mendesak mengingat tingginya arus kendaraan logistik yang melintasi kawasan timur Sumbar setiap hari.


Pemerintah Kabupaten Dharmasraya mencatat, sekitar 70 persen distribusi CPO dan tandan buah segar (TBS) dari wilayah Sumbar timur saat ini keluar melalui jalur darat menuju Riau. Kondisi tersebut menyebabkan beban jalan nasional dan provinsi semakin berat, sementara kapasitas infrastruktur eksisting dinilai tidak lagi mampu mengimbangi pertumbuhan distribusi komoditas.


Melalui pembangunan feeder toll, biaya logistik diperkirakan dapat ditekan hingga 25–30 persen sekaligus memangkas waktu tempuh distribusi menuju Pekanbaru, Jambi hingga Palembang. Dampak lanjutannya diyakini akan membuka akses kawasan hinterland dan wilayah tertinggal, serta menciptakan iklim investasi baru di koridor ekonomi Sumbar timur.


Dalam audiensi itu juga disampaikan bahwa rencana pembangunan jalan penghubung tersebut telah memperoleh dukungan awal dari 13 kabupaten/kota serta pemerintah provinsi di Riau dan Jambi. Dukungan lintas wilayah itu menjadi sinyal kuat bahwa proyek konektivitas tersebut tidak hanya berdampak bagi Dharmasraya, tetapi juga bagi integrasi ekonomi regional Sumatera bagian tengah.


Wakil Gubernur Sumbar Vasko Ruseimy menegaskan dukungan penuh Pemerintah Provinsi Sumatera Barat terhadap usulan PSN dan pembangunan feeder toll tersebut. Menurutnya, langkah itu menjadi bagian penting dalam memperkuat posisi Dharmasraya sebagai hub logistik, pusat hilirisasi sawit, sekaligus kawasan pertumbuhan ekonomi baru di wilayah timur Sumbar.


“Pembangunan konektivitas dan kawasan industri harus berjalan beriringan agar Sumbar memiliki daya saing ekonomi yang lebih kuat di masa depan,” kata Vasko.


Dorongan menjadikan Dharmasraya sebagai simpul industri dan logistik baru dinilai sejalan dengan agenda nasional penguatan hilirisasi dan pemerataan pembangunan kawasan luar Jawa. Jika terealisasi, proyek tersebut diperkirakan akan menjadi salah satu transformasi ekonomi terbesar di Sumatera Barat dalam beberapa tahun mendatang.

(Dr/red)

×
Berita Terbaru Update