-->

Notification

×

Iklan

Iklan Display

Keselamatan Jadi Prioritas, BPTD Sumbar Perkuat Ramp Check dan Hidupkan Terminal Anak Air

Senin, 04 Mei 2026 | Mei 04, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-05-04T14:37:57Z
Dialog santai namun substantif bersama Deddy Gusman, Kepala BPTD Sumbar didampingi Ferdy TU di ruang kerjanya.


Padang, MP----- Di tengah kebijakan efisiensi anggaran yang kini menjadi realitas di berbagai sektor, komitmen terhadap keselamatan transportasi publik tetap menjadi prioritas utama. Hal itu ditegaskan Deddy Gusman, ST., M.Sc., Kepala BPTD Kelas II Sumatera Barat Transportasi Darat, dalam perbincangan bersama wartawan di ruang kerjanya, lantai dua Kantor BPTD Kelas II Sumatera Barat, Jalan Adinegoro Nomor 22, Lubuk Buaya, Padang, Senin (4/5/2026).

Keakraban Deddy Gusman, Ferdy TU, dan awak media usai diskusi di ruang kerja BPTD Sumbar.


Dengan pendekatan yang tenang namun tegas, Deddy menegaskan bahwa di tengah keterbatasan anggaran, pihaknya tetap menempatkan keselamatan sebagai prioritas utama, terutama menghadapi momentum libur panjang yang terjadi dua kali dalam bulan ini.


“Dalam kondisi saat ini, memang ada beberapa prioritas. Yang pertama tentu keselamatan. Apalagi dalam satu bulan ini ada dua kali libur panjang, maka ramp check tetap kita lakukan secara konsisten di terminal-terminal,” ujarnya.


Ramp check dilakukan secara menyeluruh terhadap setiap bus yang akan berangkat, khususnya untuk trayek jarak jauh seperti Padang - Jakarta. Pemeriksaan mencakup kondisi teknis kendaraan hingga kelengkapan administrasi, guna memastikan seluruh armada laik jalan sebelum membawa penumpang.


Tak hanya di terminal, pengawasan juga diperluas ke kawasan wisata. Pada periode libur panjang, petugas BPTD turun langsung melakukan ramp check terhadap bus-bus pariwisata demi menjamin keselamatan wisatawan.


Selain fokus pada aspek keselamatan, BPTD Sumbar juga tengah mendorong optimalisasi fungsi Terminal Anak Air sebagai simpul utama transportasi darat. Meski secara operasional telah berjalan, pemanfaatannya belum maksimal, terutama dalam hal naik-turun penumpang.


“Bus boleh saja singgah di pool untuk istirahat kru atau perbaikan, tetapi menaikkan dan menurunkan penumpang wajib di terminal. Ini yang sedang kita dorong dengan pendekatan persuasif,” jelas Deddy.


Upaya tersebut mulai menunjukkan progres. Sejumlah perusahaan otobus seperti Alhijrah dan Trans Andalan Minang (TAM) telah mengarahkan penumpangnya ke Terminal Anak Air melalui sistem penjualan tiket. Namun, beberapa operator besar lainnya masih dalam tahap penyesuaian.


“Kita beri waktu sampai akhir Mei ini. Stakeholder terkait juga akan membantu agar terminal ini bisa dioptimalkan,” katanya.


Dari sisi fasilitas, Terminal Anak Air dinilai telah siap mendukung operasional secara maksimal. Area parkir yang luas, ruang tunggu yang nyaman, serta konektivitas dengan dua koridor Trans Padang dari arah Adinegoro dan Bypass menjadi keunggulan tersendiri. Bahkan, ke depan direncanakan penambahan koridor baru yang menghubungkan pusat kota hingga Kampus III UIN.


Namun demikian, tantangan utama justru terletak pada kebiasaan masyarakat yang masih cenderung memilih naik dari pool di tengah kota.


“Secara prasarana kita sudah siap. Tinggal bagaimana membiasakan masyarakat untuk mau ke terminal,” ujarnya.


Deddy juga membuka peluang solusi integratif, seperti memasukkan biaya transportasi Trans Padang dalam tiket bus, sehingga memudahkan penumpang menjangkau terminal tanpa beban tambahan.


Di sisi lain, rencana pengembangan akses menuju Terminal Anak Air sempat menjadi perhatian pemerintah daerah, termasuk wacana pelebaran jalan dan penambahan jalur menuju Bypass. Namun, bencana yang melanda membuat prioritas pembangunan bergeser.


“Sebelum bencana, bapak wali kota sudah melihat langsung kondisi di sini dan memahami kebutuhan pengembangan akses. Tapi karena situasi, fokus dialihkan pada pemulihan infrastruktur terdampak,” ungkapnya.


Meski demikian, dari sisi kapasitas, terminal ini telah terbukti mampu menampung lonjakan penumpang. Pada momen arus mudik dan balik, puluhan bus dapat dilayani tanpa kendala berarti.


“Sepuluh bus saja sudah sekitar 400 penumpang dan ruang tunggu masih cukup. Bahkan sampai 40 bus pun masih bisa tertampung,” jelas Deddy.


Di balik kepemimpinannya, Deddy Gusman merupakan putra kelahiran Lubuk Gambir, Kabupaten Pesisir Selatan, yang telah meniti karier di berbagai wilayah Indonesia, mulai dari Papua, Sulawesi, hingga Sumatera Utara. Pengalaman lintas daerah tersebut membentuk perspektifnya dalam mengelola transportasi secara komprehensif, dengan mengedepankan pendekatan teknis sekaligus sosial.


Kini, pengalaman itu ia terapkan di tanah kelahirannya yakni Sumatera Barat melalui pendekatan persuasif dan kolaboratif, menggandeng pemerintah daerah, operator transportasi, dan masyarakat.


“Ini bukan hanya tugas BPTD. Kita butuh dukungan semua pihak agar Terminal Anak Air bisa benar-benar menjadi simpul transportasi yang tertib, aman, dan nyaman,” tutupnya.


Di tengah keterbatasan anggaran, langkah-langkah strategis yang dijalankan BPTD Sumbar menjadi bukti bahwa pelayanan publik tetap dapat berjalan optimal, dengan keselamatan sebagai fondasi utama dan kolaborasi sebagai kunci keberhasilan.

(Rajo.A/Mt/red)

×
Berita Terbaru Update