-->

Notification

×

Iklan

Iklan Display

Media Konvensional Tetap Jadi Pilar Demokrasi, DPR Minta Ekosistem Digital Lebih Bertanggung Jawab

Minggu, 10 Mei 2026 | Mei 10, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-05-10T01:18:44Z
Wakil Ketua Komisi I DPR RI Dave Laksono menegaskan media konvensional tetap menjadi pilar penting demokrasi di tengah pesatnya perkembangan media digital.


Jakarta, MP----- Wakil Ketua Komisi I DPR RI Dave Laksono menegaskan media konvensional masih memegang peran vital sebagai salah satu pilar demokrasi di Indonesia. Penegasan itu disampaikan di tengah langkah pemerintah menggandeng sejumlah platform digital atau new media untuk memperluas penyebaran informasi publik kepada masyarakat.


Menurut Dave, media arus utama memiliki fondasi kuat dalam menjaga kualitas informasi karena didukung mekanisme editorial yang jelas, kode etik jurnalistik, hingga sistem akuntabilitas yang telah teruji. Hal itu dinilai menjadi faktor utama yang membuat media konvensional tetap dipercaya publik di tengah derasnya arus informasi digital.


“Media arus utama telah memiliki mekanisme editorial, kode etik, serta sistem akuntabilitas yang menjadi fondasi dalam menjaga kualitas informasi publik,” ujar Dave kepada wartawan, Jumat (8/5).


Politikus Partai Golkar itu menilai penguatan media konvensional harus tetap menjadi perhatian utama negara. Pasalnya, industri media saat ini tengah menghadapi tekanan besar akibat disrupsi digital dan perubahan pola konsumsi informasi masyarakat yang semakin bergeser ke platform media sosial.


Meski demikian, Dave tidak menolak kehadiran media digital baru. Ia memahami pertumbuhan new media merupakan konsekuensi dari perubahan perilaku masyarakat yang kini lebih banyak mengakses informasi melalui platform seperti Instagram, TikTok, hingga X.


Menurut dia, tantangan utama saat ini bukan memilih antara media konvensional atau media digital, melainkan bagaimana membangun ekosistem media yang sehat, profesional, dan bertanggung jawab.


“Tantangannya bukan sekadar menerima atau menolak keberadaan mereka, melainkan bagaimana mendorong transformasi menuju ekosistem media digital yang lebih bertanggung jawab, profesional, dan patuh terhadap regulasi yang berlaku,” katanya.


Dave juga menyoroti pentingnya peran Bakom RI dalam menjembatani hubungan antara media arus utama dan media digital. Ia berharap lembaga tersebut mampu memperkuat literasi digital masyarakat sekaligus menjaga etika komunikasi publik di tengah derasnya arus informasi media sosial.


“Ya, sekaligus memastikan kepastian regulasi, agar perkembangan media digital tetap sejalan dengan kepentingan demokrasi dan persatuan nasional,” ujarnya.


Komisi I DPR RI meyakini ekosistem media nasional akan semakin kuat apabila seluruh pelaku media memiliki komitmen yang sama dalam menjaga kualitas informasi publik. Dave turut mengingatkan pentingnya melawan disinformasi serta menghindari praktik sensasionalisme yang hanya mengejar trafik dan popularitas sesaat.


Sebelumnya, Kepala Bakom Muhammad Qodari mengungkapkan pihaknya mulai menggandeng sejumlah platform new media untuk membantu penyebaran informasi mengenai program dan kinerja pemerintah.


Qodari menjelaskan istilah homeless media kini mulai bertransformasi menjadi new media yang memiliki pengaruh besar di ruang digital, terutama karena dekat dengan generasi muda dan memiliki jangkauan luas di media sosial.


“New Media Forum ini sebuah kolaborasi dari beberapa pelaku new media. Jadi dulu namanya dikenal dengan istilah homeless media, tapi teman-teman berusaha bertransformasi menjadi new media,” ujar Qodari, Rabu (6/5).


Beberapa platform digital yang disebut ikut dirangkul pemerintah antara lain Folkative, Indozone, Narasi, USS Feed, GNFI, Kok Bisa?, hingga CXO Media.


Selain itu, pemerintah juga menggandeng sejumlah platform lain seperti Pandemic Talks, Ngomongin Uang, Big Alpha, Nalar TV, hingga Mature Indonesia untuk memperluas distribusi informasi publik di ruang digital.


Qodari menegaskan langkah tersebut dilakukan agar penyebaran informasi pemerintah tidak hanya bergantung pada media konvensional. Pemerintah ingin menjangkau audiens yang lebih luas melalui platform digital yang berkembang sangat cepat dan memiliki kedekatan kuat dengan generasi muda Indonesia.

(Jkt/red)

×
Berita Terbaru Update