-->

Notification

×

Iklan

Iklan Display

NTT Catat Sejarah sebagai Tuan Rumah HLUN Nasional Ke-30, Lansia Didorong Menjadi Pilar Pembangunan Berkelanjutan

Minggu, 31 Mei 2026 | Mei 31, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-05-31T01:32:34Z
Dirjen Rehabilitasi Sosial Kemensos RI Supomo bersama Wakil Gubernur NTT menghadiri puncak peringatan HLUN 2026 di Kupang.


Kupang, MP----- Nusa Tenggara Timur (NTT) menorehkan catatan penting dalam perjalanan pembangunan sosial nasional. Untuk pertama kalinya, provinsi kepulauan di kawasan timur Indonesia itu dipercaya menjadi tuan rumah peringatan Hari Lanjut Usia Nasional (HLUN) ke-30 tingkat nasional yang dipusatkan di Alun-Alun Rumah Jabatan Gubernur NTT, Kupang, Sabtu (30/5/2026).


Momentum tersebut tidak sekadar menjadi ajang peringatan tahunan, tetapi juga simbol pengakuan pemerintah pusat terhadap komitmen NTT dalam membangun lingkungan yang inklusif dan ramah bagi kelompok lanjut usia (lansia).


Wakil Gubernur NTT Johni Asadoma yang hadir sekaligus membuka kegiatan menegaskan bahwa lansia merupakan aset sosial yang memiliki peran strategis dalam pembangunan bangsa. Menurutnya, pengalaman hidup, keteladanan, serta nilai-nilai kebijaksanaan yang dimiliki para lansia menjadi modal penting bagi keberlanjutan pembangunan nasional.


"Tahun ini menjadi sejarah besar bagi NTT karena Pemerintah Pusat melalui Kementerian Sosial memberikan kepercayaan kepada NTT sebagai tuan rumah Hari Lanjut Usia Nasional ke-30. Ini merupakan kehormatan sekaligus tanggung jawab untuk terus meningkatkan perhatian terhadap kesejahteraan lansia," ujar Johni Asadoma.


Mengusung tema "Lansia Tangguh, Indonesia Tumbuh", peringatan HLUN 2026 menegaskan bahwa usia lanjut bukanlah penghalang untuk tetap aktif dan produktif. Sebaliknya, lansia dipandang sebagai sumber inspirasi yang mampu memberikan kontribusi nyata bagi keluarga, masyarakat, maupun pembangunan daerah.


Di hadapan ratusan peserta yang terdiri dari para lansia, jajaran Forkopimda, pimpinan perangkat daerah, dan perwakilan organisasi sosial, Johni mengajak seluruh lansia untuk terus menjaga kesehatan dan semangat hidup.


"Menjadi lansia tangguh bukan berarti tanpa keterbatasan, tetapi mereka yang tidak menyerah pada usia. Sehat adalah harta yang paling berharga. Usia boleh di atas 60 tahun, tetapi semangat harus tetap muda," katanya.


Lebih lanjut, Pemerintah Provinsi NTT menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat berbagai program yang mendukung kualitas hidup lansia. Upaya tersebut dilakukan melalui penguatan perlindungan sosial, perluasan akses layanan kesehatan, peningkatan pemberdayaan ekonomi, hingga pembangunan lingkungan yang lebih ramah bagi kelompok usia lanjut.


Sementara itu, Direktur Jenderal Rehabilitasi Sosial Kementerian Sosial RI, Supomo, memberikan apresiasi atas kesiapan dan sinergi yang ditunjukkan Pemerintah Provinsi NTT dalam menyukseskan penyelenggaraan HLUN tingkat nasional.


Menurut Supomo, peringatan HLUN tidak boleh berhenti pada kegiatan seremonial semata, melainkan harus menjadi momentum menghadirkan layanan nyata yang mampu menjawab kebutuhan lansia di lapangan.


"Kehadiran opa dan oma pada puncak peringatan HLUN 2026 ini menunjukkan bahwa NTT siap menjadi provinsi ramah lansia," ujarnya.


Sebagai bagian dari rangkaian kegiatan HLUN ke-30, Kementerian Sosial bersama Pemerintah Provinsi NTT menghadirkan berbagai layanan terpadu yang menjangkau langsung masyarakat lanjut usia. Layanan tersebut meliputi pemeriksaan kesehatan gratis, bantuan aksesibilitas, pendampingan sosial, pemberdayaan ekonomi, hingga pelayanan administrasi kependudukan.


Salah satu program yang mendapat perhatian luas adalah pelaksanaan operasi katarak bagi sekitar 560 lansia di RSUD Naibonat, Kabupaten Kupang. Program ini menjadi bukti konkret upaya pemerintah dalam meningkatkan kualitas hidup lansia melalui layanan kesehatan yang lebih mudah diakses.


Selain itu, pemerintah juga menyalurkan berbagai bantuan alat bantu dengar, dukungan usaha produktif, pengurusan dokumen kependudukan seperti KTP dan Kartu Keluarga, serta layanan home care bagi lansia yang hidup sendiri dan membutuhkan pendampingan khusus.


Tidak hanya berfokus pada pelayanan, Kementerian Sosial juga terus membangun kesadaran sosial generasi muda terhadap pentingnya penghormatan kepada lansia. Melalui program Taruna Siaga Bencana (Tagana) dan Pekerja Sosial (Peksos) Goes to School, nilai-nilai kepedulian antargenerasi terus ditanamkan sejak dini.


Supomo menegaskan bahwa keberhasilan mewujudkan Indonesia yang ramah lansia memerlukan keterlibatan seluruh elemen bangsa, mulai dari pemerintah, dunia usaha, organisasi kemasyarakatan, hingga keluarga sebagai lingkungan terdekat yang memberikan perlindungan dan penghormatan kepada para lanjut usia.


Peringatan Hari Lanjut Usia Nasional ke-30 di NTT menjadi pengingat bahwa pembangunan tidak hanya berbicara tentang generasi produktif, tetapi juga tentang bagaimana negara memberikan ruang, penghargaan, dan perlindungan kepada mereka yang telah mengabdikan hidupnya bagi bangsa. Dari Kupang, pesan itu disuarakan dengan kuat: lansia bukan beban pembangunan, melainkan sumber inspirasi yang terus menumbuhkan Indonesia.

(Nt/red)

×
Berita Terbaru Update