-->

Notification

×

Iklan

Iklan Display

Kaligrafi Muslim Tionghoa Dunia Memikat Bukittinggi, Maigus Nasir: Jembatan Peradaban yang Memperkaya Minangkabau

Sabtu, 06 Juni 2026 | Juni 06, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-06-06T02:04:21Z
Wakil Wali Kota Padang Maigus Nasir meninjau pameran kaligrafi karya Muslim Tionghoa dunia, Prof. Yusuf Liu Baojun, di Istana Bung Hatta, Bukittinggi, dalam rangka International Minangkabau Literacy Festival (IMLF) ke-4 dan peringatan 100 Tahun Jam Gadang, Jumat (5/6/2026).


Bukittinggi, MP----- Pertemuan budaya, literasi, dan nilai-nilai spiritual mewarnai pelaksanaan pameran kaligrafi karya Muslim Tionghoa dunia, Prof. Yusuf Liu Baojun, di Istana Bung Hatta, Bukittinggi, Jumat (5/6/2026). Kegiatan ini menjadi salah satu agenda penting dalam rangkaian International Minangkabau Literacy Festival (IMLF) ke-4 sekaligus peringatan 100 Tahun Jam Gadang yang digelar Pemerintah Kota Bukittinggi.


Wakil Wali Kota Padang, Maigus Nasir, hadir secara langsung untuk menyaksikan koleksi karya kaligrafi yang menampilkan perpaduan estetika seni Tiongkok dan nilai-nilai Islam. Puluhan karya yang didominasi sapuan tinta hitam dengan goresan kaligrafi khas itu tidak hanya menghadirkan keindahan visual, tetapi juga memancarkan pesan spiritual, sejarah, dan peradaban yang mendalam.


Menurut Maigus Nasir, pameran tersebut menjadi bukti bahwa seni mampu menjadi bahasa universal yang melampaui batas negara, etnis, maupun budaya.


“Pameran ini menunjukkan bahwa Islam hadir dalam berbagai wajah kebudayaan yang indah. Karya-karya Prof. Yusuf Liu Baojun bukan hanya memiliki nilai artistik tinggi, tetapi juga menjadi jembatan peradaban yang mempererat hubungan antarbangsa dan memperkaya khazanah budaya dunia Islam, termasuk di Minangkabau,” ujar Maigus.


Ia menilai kehadiran seniman dan intelektual Muslim dari berbagai negara dalam ajang IMLF menjadi momentum penting untuk memperkuat diplomasi budaya serta memperluas wawasan generasi muda mengenai keberagaman tradisi Islam di dunia.


“Minangkabau sejak dahulu dikenal sebagai kawasan yang terbuka terhadap pertukaran gagasan, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan. Melalui kegiatan seperti ini, kita belajar bahwa keberagaman bukanlah sekat, melainkan kekuatan yang memperkaya peradaban,” tambahnya.


Dalam kesempatan tersebut, Maigus Nasir juga menerima hadiah sebuah buku karya Prof. Yusuf Liu Baojun berjudul Cina Muslim dan Hubungannya dengan Alam Melayu. Buku tersebut diberikan sebagai simbol persahabatan budaya sekaligus bentuk apresiasi terhadap upaya memperkuat hubungan historis antara komunitas Muslim Tionghoa dan masyarakat Melayu di Asia Tenggara.


Bagi Maigus, buku tersebut memiliki nilai penting sebagai referensi akademik dan budaya yang dapat memperkaya pemahaman masyarakat mengenai jejak interaksi panjang antara peradaban Tiongkok dan dunia Melayu-Islam.


Sementara itu, karya-karya kaligrafi yang dipamerkan menggambarkan kedalaman pemikiran Prof. Yusuf Liu Baojun dalam memadukan seni tulis tradisional Tiongkok dengan pesan-pesan universal Islam. Setiap goresan menghadirkan harmoni antara keindahan visual, refleksi spiritual, dan dialog kebudayaan yang melintasi ruang serta waktu.


Pameran ini sekaligus menegaskan posisi Bukittinggi sebagai salah satu pusat pertemuan budaya dan literasi internasional di Indonesia. Kehadiran tokoh-tokoh budaya dari berbagai negara dalam rangkaian IMLF ke-4 memperlihatkan bahwa diplomasi kebudayaan tetap menjadi instrumen efektif dalam membangun hubungan antarbangsa yang lebih inklusif dan berkelanjutan.


Di tengah arus globalisasi yang semakin dinamis, pertemuan budaya seperti ini menjadi pengingat bahwa seni, literasi, dan dialog peradaban merupakan fondasi penting dalam merawat persatuan, memperkuat toleransi, serta membangun masa depan yang berlandaskan saling pengertian dan penghormatan terhadap keberagaman.

(Pd/MP/red)

×
Berita Terbaru Update