![]() |
| Proyek revitalisasi SMPN 9 Pariaman diharapkan menghasilkan bangunan yang aman, kokoh, dan sesuai spesifikasi teknis. |
Pariaman, MP----- Pelaksanaan Program Bantuan Pemerintah Revitalisasi Satuan Pendidikan Tahun 2026 di SMP Negeri 9 Pariaman mulai menjadi perhatian publik. Proyek yang menelan anggaran negara sebesar Rp 3,738 miliar yang bersumber dari APBN Tahun Anggaran 2026 itu diharapkan tidak hanya selesai tepat waktu, tetapi juga menghasilkan bangunan yang benar-benar berkualitas, aman, dan sesuai spesifikasi teknis.
![]() |
| Roy Ahmad Suradi saat menunjukkan bagian bangunan yang menjadi perhatian dalam pelaksanaan revitalisasi SMPN 9 Pariaman. |
Pekerjaan yang berlokasi di Desa Marunggi, Kecamatan Pariaman Selatan, Kota Pariaman tersebut mencakup rehabilitasi sembilan ruang kelas, ruang administrasi, aula, perpustakaan, laboratorium IPA, ruang OSIS dan kesenian, dengan masa pelaksanaan selama 150 hari kerja sejak 6 April hingga Agustus 2026.
Saat ditemui di sekolah, Wakil Kepala SMPN 9 Pariaman Bidang Kesiswaan, Davit Saputra, S.Pd., menjelaskan bahwa pekerjaan telah memasuki bulan ketiga pelaksanaan.
"Pekerjaan sudah berjalan hampir tiga bulan sejak dimulai pada April lalu. Ada sekitar 17 ruangan yang direhabilitasi, termasuk ruang kelas, laboratorium, perpustakaan, dan mushalla," ujar Davit, Jumat (12/6/2026).
Sementara itu, Roy Ahmad Suradi yang mengaku selaku Konsultan Perencana menjelaskan bahwa pekerjaan rehabilitasi meliputi penggantian atap, plafon, lantai, kusen, serta pengecatan sejumlah bangunan sekolah.
Namun dalam peninjauan lapangan, tim jurnalis menemukan sejumlah hal yang dinilai perlu mendapat perhatian serius dari pihak pelaksana maupun pengawas pekerjaan. Pada salah satu ujung bangunan terlihat pasangan bata yang diplester tidak rapi pada bagian dalam, sementara sisi luar bangunan tampak telah diplester dan diaci dengan baik.
Menanggapi hal tersebut, Roy menjelaskan bahwa bagian dalam bangunan tersebut nantinya akan tertutup plafon sehingga pekerjaan plester halus tidak masuk dalam volume kontrak.
"Bagian dalam itu nanti tertutup plafon. Pekerjaan plester halus dan acian pada bagian tersebut memang tidak masuk volume pekerjaan," jelasnya.
Selain itu, pada salah satu bangunan yang direhabilitasi tampak adanya retakan pada slof gantung sehingga bagian ujung memperlihatkan tulangan besi yang dinilai belum terikat sempurna dengan kolom praktis. Kondisi tersebut menimbulkan kekhawatiran terhadap kekuatan struktur apabila tidak segera dilakukan perbaikan sesuai metode teknis yang benar.
Menurut Roy, kondisi tersebut akan diperbaiki dengan cara membobok bagian beton, memperkuat ikatan tulangan besi, lalu melakukan pengecoran ulang.
"Nanti akan dibuka bagian ujungnya, besi diperkuat dan diikat kembali, setelah itu dicor ulang sesuai metode perbaikan," katanya.
Tak hanya itu, aspek pekerjaan pembesian juga menjadi perhatian. Berdasarkan pantauan di lokasi proyek, pada beberapa titik terlihat pemasangan begel (sengkang) tulangan yang kurang rapi, sementara pengikatan antar tulangan dinilai belum maksimal. Kondisi tersebut dinilai perlu segera mendapat evaluasi dan pembenahan sebelum pekerjaan memasuki tahapan pengecoran permanen.
Praktisi konstruksi menyebut bahwa pekerjaan pembesian merupakan salah satu elemen paling vital dalam menentukan kekuatan struktur bangunan. Kerapian pemasangan begel, jarak antar sengkang, serta kekuatan ikatan kawat bendrat menjadi bagian yang tidak dapat diabaikan karena berpengaruh langsung terhadap kemampuan struktur menahan beban maupun guncangan.
Ironisnya, di tengah pelaksanaan revitalisasi bernilai miliaran rupiah tersebut, kondisi toilet sekolah yang mulai mengalami kerusakan ringan dan terlihat kurang terawat ternyata tidak masuk dalam paket pekerjaan.
"Toilet masih berfungsi. Dalam perencanaan memang tidak termasuk item pekerjaan yang direhabilitasi," terang Roy.
Davit menambahkan bahwa setelah pekerjaan fisik selesai, akan dilanjutkan dengan program pengadaan mobiler untuk mendukung kegiatan belajar mengajar.
"Informasinya setelah pembangunan selesai, akan masuk pengadaan mobiler untuk ruang kelas, perpustakaan, laboratorium, dan ruang guru," ujarnya.
Kadisdik Pariaman : Tolak dan Perbaiki Jika Tidak Sesuai Spek
Menanggapi pelaksanaan proyek tersebut, Kepala Dinas Pendidikan, Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga Kota Pariaman, Hertati Taher, SE, memberikan peringatan tegas kepada seluruh pihak yang terlibat dalam pembangunan.
Menurutnya, konsultan perencana, konsultan pengawas, Panitia Pembangunan Satuan Pendidikan (P2SP), serta pelaksana pekerjaan memiliki tanggung jawab penuh memastikan seluruh pekerjaan dilaksanakan sesuai gambar kerja, spesifikasi teknis, dan ketentuan kontrak.
"Saya tegaskan tidak ada toleransi terhadap pekerjaan yang tidak sesuai spesifikasi teknis. Konsultan perencana dan konsultan pengawas wajib menjalankan fungsi pengawasan secara maksimal. Jika ditemukan pekerjaan yang tidak sesuai, harus segera diperbaiki. Bila perlu ditolak sebelum dilakukan pembayaran atau serah terima pekerjaan," tegas Hertati kepada wartawan di ruang kerjanya, Senin (8/6/2026).
Menurut Hertati, dana revitalisasi yang berasal dari APBN harus dipertanggungjawabkan secara profesional dan transparan.
"Setiap rupiah uang negara harus menghasilkan bangunan yang berkualitas. Jangan sampai ada pekerjaan asal jadi. Yang dibangun ini adalah fasilitas pendidikan untuk anak-anak kita. Keselamatan siswa dan mutu bangunan tidak boleh dikompromikan," katanya.
Ia juga menegaskan bahwa pekerjaan struktur seperti pondasi, slof, kolom, balok, hingga pembesian harus menjadi perhatian utama seluruh pihak yang terlibat.
"Apabila ditemukan pekerjaan pembesian, pengecoran, atau pekerjaan struktur lainnya yang tidak sesuai dengan spesifikasi teknis, maka wajib diperbaiki. Pengawas dan konsultan tidak boleh membiarkan pekerjaan yang berpotensi mengurangi mutu bangunan. Fungsi pengawasan harus berjalan maksimal dari awal sampai pekerjaan selesai," tegasnya.
Sumbar Daerah Rawan Gempa, Mutu Struktur Tak Boleh Diabaikan
Perhatian terhadap kualitas pekerjaan konstruksi menjadi semakin penting mengingat Sumatera Barat merupakan salah satu daerah dengan tingkat kerawanan gempa bumi yang tinggi di Indonesia.
Karena itu, seluruh pekerjaan struktur, terutama pembesian, pengecoran, sambungan tulangan, pemasangan begel, kualitas beton, hingga detail teknis lainnya harus dilaksanakan sesuai spesifikasi dan standar konstruksi yang telah ditetapkan dalam dokumen perencanaan.
Dalam bangunan pendidikan, aspek keselamatan menjadi prioritas utama karena setiap hari digunakan oleh ratusan siswa, guru, dan tenaga kependidikan. Kesalahan kecil dalam pekerjaan struktur berpotensi menimbulkan dampak besar terhadap ketahanan bangunan di masa mendatang.
Pengamat konstruksi menilai bahwa proyek revitalisasi sekolah tidak boleh hanya berorientasi pada penyelesaian fisik semata, tetapi juga harus menjamin kualitas struktur yang mampu bertahan dalam jangka panjang, terutama menghadapi risiko bencana alam yang menjadi karakteristik wilayah Sumatera Barat.
Masyarakat Minta Pengawasan Ketat dan Transparan
Sejumlah warga Kota Pariaman yang ditemui wartawan, Jumat (12/6/2026), meminta agar proyek revitalisasi tersebut diawasi secara ketat hingga selesai.
"Kalau anggarannya miliaran rupiah, kualitasnya juga harus maksimal. Jangan ada pekerjaan yang asal selesai. Ini sekolah tempat anak-anak belajar setiap hari," ujar Rudi (47), warga Pariaman Selatan.
Yulidar (52), tokoh masyarakat setempat, berharap seluruh pihak berani bertindak apabila ditemukan pekerjaan yang tidak sesuai.
"Kalau ada yang kurang rapi atau tidak sesuai spesifikasi, jangan ditutupi. Segera perbaiki. Bangunan sekolah harus kuat dan aman karena menyangkut keselamatan generasi muda," katanya.
Senada dengan itu, Andri (39), warga lainnya, menegaskan bahwa pengawasan tidak boleh hanya formalitas.
"Pengawas, konsultan, dan pelaksana harus benar-benar bekerja profesional. Uang negara yang digunakan sangat besar. Masyarakat tentu berharap hasilnya berkualitas dan mampu bertahan lama," tegasnya.
Masyarakat berharap revitalisasi SMPN 9 Pariaman menjadi contoh pembangunan pendidikan yang mengedepankan kualitas, transparansi, akuntabilitas, dan keselamatan. Terlebih di daerah rawan gempa seperti Sumatera Barat, setiap detail pekerjaan konstruksi harus menjadi perhatian serius agar bangunan sekolah benar-benar kokoh, aman, dan memberikan manfaat jangka panjang bagi dunia pendidikan.
(Rajo.A/MP)

