-->

Notification

×

Iklan

Iklan Display

Transparansi Distribusi Es Jadi Prioritas, UPTD TPI Padang Pastikan Kebutuhan Nelayan Tetap Terpenuhi

Senin, 15 Juni 2026 | Juni 15, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-06-15T12:16:24Z
Suasana wawancara Kepala UPTD TPI Kota Padang bersama awak media terkait pengelolaan produksi dan distribusi es batangan bagi nelayan Kota Padang.


Padang, MP----- Aktivitas di lingkungan UPTD Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Dinas Perikanan dan Pangan Kota Padang pada Senin (15/6/2026) tampak berjalan normal. Di tengah kesibukan operasional pelayanan bagi nelayan, Kepala UPTD TPI Kota Padang, Adrin Kahar, menerima sejumlah jurnalis yang datang untuk mengonfirmasi berbagai isu terkait ketersediaan dan distribusi es batangan.


Duduk di ruang kerjanya, Adrin menjelaskan satu per satu mekanisme produksi hingga penyaluran es yang selama ini menjadi penopang utama aktivitas perikanan tangkap di Kota Padang.


Menurutnya, kapasitas pabrik es yang dikelola UPTD TPI mampu mencapai 600 batang per hari. Namun, jumlah produksi tidak selalu dimaksimalkan karena disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan riil di lapangan.


"Produksi tergantung kebutuhan. Kadang hanya sekitar 100 batang sehari. Tapi kalau musim ikan, kebutuhannya meningkat dan bisa lebih dari itu," kata Adrin kepada sejumlah jurnalis.


Di tengah meningkatnya aktivitas perikanan, keberadaan pabrik es memiliki fungsi yang sangat vital. Es tidak hanya menjadi komoditas pendukung, tetapi juga berperan menjaga kualitas dan kesegaran hasil tangkapan nelayan sejak dari laut hingga sampai ke tangan konsumen.


Karena itu, pemerintah melalui UPTD TPI berupaya memastikan rantai distribusi tetap berjalan lancar dan tidak menghambat aktivitas ekonomi para nelayan.


Adrin menjelaskan, sistem pemesanan juga telah diatur agar operasional pelayanan berjalan efektif. Untuk setiap transaksi, pembelian minimal ditetapkan sebanyak 20 batang es.


"Kalau satu atau dua batang tentu tidak bisa. Minimal 20 batang dan berapa pun kebutuhan berikutnya siap kita produksi," ujarnya.


Sorotan mengenai dugaan adanya pihak-pihak tertentu yang mendapat prioritas dalam memperoleh es batangan pun turut menjadi perhatian para jurnalis. Menanggapi hal tersebut, Adrin dengan tegas membantah adanya perlakuan khusus dalam pendistribusian.


Ia menilai isu tersebut tidak berdasar dan tidak mencerminkan kondisi pelayanan yang sebenarnya.


"Itu hanya isu. Ketika mereka mendapatkan banyak, mereka diam. Ketika tidak mendapatkan sesuai keinginan, baru ribut. Saya tahu siapa orangnya," tegasnya.


Untuk menjawab keraguan publik, UPTD TPI Kota Padang, kata Adrin, terus memperkuat sistem pelayanan berbasis transparansi. Salah satunya melalui penerapan pembayaran digital menggunakan QRIS.


Langkah tersebut dilakukan untuk menghilangkan potensi interaksi transaksional secara langsung yang berpotensi menimbulkan persepsi negatif di tengah masyarakat.


"Pembayaran sekarang menggunakan QRIS. Sistemnya lebih transparan dan tidak lagi bersentuhan langsung dengan petugas," jelasnya.


Ia menegaskan, keberadaan pabrik es yang dibangun pemerintah memang diperuntukkan bagi nelayan Kota Padang dan seluruh distribusi dilakukan berdasarkan permintaan yang masuk.


Jika produksi pada hari tertentu tidak habis terserap, maka sisa stok akan dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan pada hari berikutnya.


"Kami bisa memproduksi 600 batang per hari. Saat musim ikan biasanya habis. Kalau ada sisa, kita gunakan untuk memenuhi permintaan besoknya," katanya.


Di balik berbagai dinamika yang muncul, Adrin mengaku pihaknya tidak anti terhadap kritik. Sebaliknya, masukan dari masyarakat dan media dianggap sebagai bagian penting dalam membangun pelayanan publik yang lebih baik.


Ia menyadari sektor perikanan merupakan sektor yang sangat dinamis dan membutuhkan respons cepat dari seluruh pihak.


"Kami berterima kasih atas setiap kritik yang disampaikan. Semua itu menjadi bahan evaluasi untuk memperbaiki pelayanan ke depan," ungkapnya.


Ia juga mengajak seluruh pelaku usaha perikanan, mulai dari agen hingga pemilik ikan, untuk bersama-sama memahami kondisi di lapangan.


"Kami pada prinsipnya menyelamatkan kualitas ikan. Karena itu, semua pihak harus ikut menyikapi kondisi yang ada secara bersama-sama," tuturnya.


Di akhir wawancara, Adrin menyampaikan apresiasi kepada insan pers yang terus menjalankan fungsi kontrol sosial dan menyebarluaskan informasi kepada masyarakat.


"Bagi kami, terima kasih kepada media. Bagaimanapun juga, kami siap menerima kritik dan masukan demi pelayanan yang lebih baik kepada masyarakat dan nelayan," pungkasnya.

(Rajo.A/MP)

×
Berita Terbaru Update