![]() |
| Keberhasilan Furqon Habil Winata diharapkan menjadi inspirasi bagi generasi muda sekaligus mendorong perhatian lebih terhadap pembinaan olahraga daerah. |
Lubuk Basung, MP----- Kabar membanggakan datang dari Ranah Minang. Furqon Habil Winata, pesilat muda andalan Kabupaten Agam binaan Perguruan Silat Tangan Mas Lubuk Basung, resmi dipanggil memperkuat Tim Nasional Indonesia untuk SEA Games Malaysia 2027 sekaligus masuk dalam seleksi program Road to Olympic.
Capaian Habil bukanlah hasil instan. Berkat proses pembinaan panjang sejak kelas II SD hingga kini SMA, di bawah gemblengan disiplin tinggi dan bimbingan pelatih Jefri Juniardi, S.Pd., Habil sukses menyapu bersih medali emas di berbagai ajang internasional—mulai dari Asian Junior Championship di India, Asian Youth Games di Bahrain, ASEAN School Games di Brunei, hingga 10th Senior Asian Pencak Silat Championship 2026 di Vietnam.
Namun, di balik selebrasi dan rasa bangga ini, terselip sebuah refleksi mendalam yang patut menjadi bahan evaluasi bersama.
Mutiara Daerah yang Sering Bertahan dalam Keterbatasan
Kisah Furqon Habil Winata adalah bukti nyata bahwa daerah tidak pernah kehabisan bakat emas. Sayangnya, cerita sukses seperti Habil kerap kali lahir dari perjuangan mandiri perguruan, dedikasi tanpa batas dari para pelatih, dan pengorbanan luar biasa dari keluarga atlet itu sendiri.
Sudah menjadi rahasia umum bahwa di banyak daerah, perhatian terhadap ekosistem olahraga—khususnya kesejahteraan atlet berprestasi, pelatih, hingga wasit—masih tergolong minim. Tak sedikit atlet berprestasi yang masa depannya belum terjamin, atau pelatih dan wasit yang mendedikasikan hidupnya dengan honorarium seadanya.
Tamparan Halus untuk Pemda: Kapan Anggaran APBD Benar-Benar Berpihak?
Keberhasilan Habil menembus Pelatnas hendaknya menjadi "alarm keras" bagi Pemda Sumbar serta pemerintah daerah lainnya yang masih memandang sebelah mata sektor olahraga. Dukungan olahraga tidak boleh hanya hadir saat pemotongan pita atau sesi foto pelepasan atlet semata.
Pengembangan olahraga prestasi membutuhkan komitmen nyata melalui alokasi APBD daerah yang berkelanjutan dan tepat sasaran. Dukungan ini idealnya mencakup:
Jaminan Kesejahteraan Atlet & Keluarga: Atlet yang mengharumkan nama daerah dan bangsa sepatutnya mendapatkan jaminan pendidikan, beasiswa, hingga kepastian masa depan/lapangan kerja, sehingga keluarga mereka tidak berjuang sendirian.
Apresiasi untuk Pelatih dan Wasit: Pelatih adalah pahlawan di balik layar yang menempa karakter dan bakat, sementara wasit adalah pengawal sportivitas. Tanpa insentif dan jaminan kesejahteraan yang layak dari dana APBD, sulit membangun iklim olahraga yang profesional.
Sarana & Anggaran Pembinaan Berkelanjutan: Keberadaan porsi anggaran yang jelas (seperti efektivitas Pokir DPRD dan APBD KONI) harus dipastikan mengalir hingga ke rantai pembinaan paling bawah, bukan habis di tataran birokrasi.
Harapan Masa Depan
Ketua Umum KONI Agam, Edi Busti, dan Dewan Guru Perguruan Silat Tangan Mas, Asrial SH, telah membuktikan bahwa sinergi dan pembinaan berkesinambungan mampu melahirkan juara dunia. Dukungan pokir dari Anggota DPRD Sumbar, Ridwan Dt Tumbijo, juga menjadi contoh bagaimana kebijakan politik bisa berdampak positif jika diarahkan dengan benar.
Kini, harapannya ada pada pemerintah daerah. Jangan tunggu atlet-atlet terbaik berpindah membela daerah lain yang lebih menghargai keringat mereka baru pemda bersuara.
Semoga langkah Furqon Habil Winata menuju Pelatnas bukan hanya menjadi kebanggaan di atas kertas, tetapi juga membuka mata dan hati para pengambil kebijakan di Sumatera Barat dan seluruh Indonesia: bahwa membina atlet, pelatih, dan wasit melalui APBD adalah investasi masa depan bangsa, bukan sekadar beban anggaran.
(Idul Fitri/MP)
