-->

Notification

×

Iklan

Iklan Display

Dorong Konektivitas Maritim, Terminal Penumpang Muaro Padang Dibangun dan Teluk Bayur Ditarget Naik Kelas

Rabu, 01 April 2026 | April 01, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-04-01T11:25:58Z
Prof. Dr. Elwi Danil, SH, MH berdiskusi santai bersama jurnalis di warung kopi “Nan Yo”, Padang.

Padang, MP----- Upaya memperkuat konektivitas dan daya saing sektor maritim di Sumatera Barat terus bergulir. Tahun 2026 ini, pembangunan terminal penumpang yang lebih representatif di kawasan Muaro Padang dipastikan akan direalisasikan.

Hal itu disampaikan tokoh Sumatera Barat, Prof. Dr. Elwi Danil, SH, MH, dalam pertemuan santai bersama jurnalis media momenpembaruan.com, Darmen Rajo Alam dan Ketua KJI Kota Padang, Mukhtisar, di warung kopi “Nan Yo”, Jalan Niaga No. 205, kawasan Pondok, Padang, Rabu (1/4/2026).

Menurut Elwi Danil yang juga menjabat Komisaris PT Pelindo, pembangunan terminal penumpang ini menjadi langkah strategis dalam meningkatkan kualitas layanan transportasi laut di Muaro Padang. Dengan fasilitas yang lebih memadai, kawasan tersebut diharapkan mampu berkembang sebagai simpul transportasi sekaligus pintu masuk aktivitas ekonomi masyarakat pesisir.

“Pembangunan dermaga ini bertujuan agar Pelabuhan Muaro memiliki sarana yang lebih representatif, sehingga dapat menunjang mobilitas penumpang dan mendorong pertumbuhan ekonomi lokal,” ujarnya.

Tidak hanya itu, Elwi juga mengungkapkan rencana besar lainnya, yakni mendorong peningkatan status Pelabuhan Teluk Bayur dari pelabuhan kelas dua menjadi pelabuhan kelas satu. Jika terealisasi, status tersebut akan menempatkan Teluk Bayur sejajar dengan pelabuhan utama di Pulau Sumatera, seperti di Dumai dan Palembang.

Namun, Elwi menegaskan bahwa peningkatan status pelabuhan tidak bisa dilepaskan dari keseimbangan arus logistik. Saat ini, aktivitas di Pelabuhan Teluk Bayur masih didominasi arus masuk barang dari luar daerah, sementara arus keluar relatif rendah.

“Ini yang harus kita benahi bersama. Kalau ingin Teluk Bayur naik kelas, maka arus barang keluar harus lebih besar. Artinya, Sumatera Barat harus mampu memproduksi dan mengekspor lebih banyak komoditas,” tegasnya.

Ia menambahkan, salah satu kunci utama adalah mendorong tumbuhnya industri dan pembangunan pabrik - pabrik di daerah. Dengan adanya hilirisasi produk, nilai tambah komoditas lokal akan meningkat dan berdampak langsung pada volume ekspor melalui pelabuhan.

Selain sektor industri, Elwi juga menyoroti pentingnya penguatan sektor pertanian dan perkebunan. Komoditas unggulan Sumatera Barat seperti kulit manis, pala, cengkeh, dan berbagai hasil pertanian lainnya dinilai memiliki potensi besar untuk dipasarkan ke luar daerah bahkan ke pasar internasional.

“Produk - produk unggulan ini harus kita dorong keluar melalui Pelabuhan Teluk Bayur. Dengan begitu, pergerakan ekonomi akan lebih seimbang dan pelabuhan kita benar - benar berfungsi sebagai pintu ekspor, bukan hanya pintu masuk barang,” tambahnya.

Menurutnya, peningkatan status pelabuhan bukan sekadar perubahan administratif, tetapi menyangkut peningkatan kapasitas, fasilitas, serta peran strategis dalam jaringan logistik nasional dan internasional.

“Untuk mewujudkan hal ini, diperlukan sinergi dan perhatian serius dari seluruh stakeholder, baik pemerintah pusat maupun daerah, agar pengembangan Pelabuhan Teluk Bayur bisa berjalan optimal,” tegas pakar hukum pidana tersebut.

Pengembangan infrastruktur pelabuhan ini dinilai krusial dalam menjawab tantangan pertumbuhan arus barang dan penumpang di wilayah barat Sumatera. Selain itu, keberadaan pelabuhan dengan standar lebih tinggi diyakini akan membuka peluang investasi baru, memperkuat sektor industri dan pertanian, serta meningkatkan daya saing daerah di tingkat nasional.

Dengan langkah konkret pembangunan terminal Muaro dan dorongan peningkatan status Teluk Bayur, Sumatera Barat menunjukkan komitmen untuk menjadikan sektor maritim sebagai salah satu pilar utama pembangunan daerah ke depan.

(Red)

×
Berita Terbaru Update