-->

Notification

×

Iklan

Iklan Display

Isu Pemakzulan Dinilai Bermuatan Tekanan Politik

Selasa, 07 April 2026 | April 07, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-04-07T02:09:52Z
Presiden Prabowo Subianto saat menghadiri agenda kenegaraan di Jakarta.

Jakarta, MP----- Narasi pemakzulan terhadap Presiden Prabowo Subianto dinilai bukan sekadar wacana politik biasa. Isu tersebut disebut sarat kepentingan dan mencerminkan kegelisahan kelompok tertentu terhadap arah kebijakan pemerintahan ke depan.

Pengamat intelijen dan geopolitik, Amir Hamzah, menilai dorongan pemakzulan justru menjadi indikator adanya rasa takut atas potensi terbongkarnya berbagai persoalan besar.

Menurutnya, pihak-pihak yang menggulirkan isu tersebut tengah berupaya membangun opini publik seolah-olah ada ancaman serius terhadap pemerintahan. Padahal, kata dia, yang terjadi justru sebaliknya.

“Mereka berusaha menciptakan persepsi ancaman untuk menarik dukungan. Ini bukan soal realitas, tapi konstruksi opini,” ujar Amir, Selasa (7/4/2026).

Amir menegaskan, dalam kacamata intelijen, pola semacam ini kerap digunakan sebagai strategi komunikasi politik untuk mengalihkan perhatian publik dari isu yang lebih substansial. Narasi yang dibangun, lanjutnya, tidak secara langsung menyasar figur tertentu, melainkan lebih sebagai alat tekanan politik.

Ia juga menilai, isu ancaman terhadap pemerintahan kerap dijadikan “tameng psikologis” oleh pihak-pihak yang merasa terancam, terutama terkait agenda penegakan hukum.

“Ancaman itu tidak nyata, tetapi dikonstruksi. Ini bagian dari operasi opini. Semakin keras teriakannya, semakin besar kemungkinan ada ketakutan yang disembunyikan,” tegasnya.

Dalam konteks ini, Amir mengingatkan publik agar tidak mudah terpengaruh oleh narasi yang belum tentu berbasis fakta, serta tetap mencermati perkembangan politik secara objektif dan berimbang.

(Red/JKT)

×
Berita Terbaru Update