![]() |
| Suasana seminar nasional di UNP yang dihadiri ratusan peserta dari kalangan akademisi, mahasiswa, dan organisasi perempuan. |
Padang, MP----- Gagasan mengembalikan pendidikan pada fondasi keluarga mengemuka kuat dalam Seminar Nasional bertajuk “Kiprah Rahmah El Yunusiyyah sebagai Pahlawan Nasional dalam Pengembangan Pendidikan di Indonesia” yang digelar di Auditorium Universitas Negeri Padang, awal pekan ini. Forum yang dihadiri ratusan akademisi, praktisi pendidikan, hingga organisasi perempuan itu tak sekadar menjadi ruang refleksi sejarah, tetapi juga arena merumuskan arah baru pendidikan nasional.
![]() |
| Gubernur Mahyeldi Ansharullah membuka Seminar Nasional tentang kiprah Rahmah El Yunusiyyah di Auditorium UNP. |
Gubernur Sumatera Barat, Mahyeldi Ansharullah, dalam pidato pembukaannya menekankan bahwa tantangan pendidikan saat ini tidak lagi berdiri sendiri di ruang kelas, melainkan berkelindan erat dengan dinamika keluarga. Ia melihat adanya pergeseran nilai yang berdampak pada relasi antara guru dan murid, yang belakangan kerap diwarnai konflik bahkan berujung pada proses hukum.
Menurutnya, fenomena tersebut merupakan sinyal adanya krisis mendasar dalam sistem pendidikan, yang tak lagi sepenuhnya berpijak pada nilai pembentukan karakter. “Ketika hubungan guru dan murid kehilangan ruhnya, maka yang terjadi bukan lagi proses mendidik, melainkan sekadar transfer pengetahuan tanpa makna,” ujarnya.
Mahyeldi menilai akar persoalan itu berawal dari lemahnya ketahanan keluarga. Ia menyoroti bahwa meskipun regulasi daerah tentang ketahanan keluarga telah tersedia, implementasinya belum berjalan optimal. Padahal, berbagai persoalan sosial seperti penyalahgunaan narkoba hingga perilaku menyimpang kerap bermuara dari rapuhnya fondasi keluarga.
Dalam konteks itu, ia mengangkat kembali pemikiran Rahmah El Yunusiyyah sebagai model pendidikan yang relevan. Pendiri lembaga Diniyyah Puteri tersebut dinilai telah jauh melampaui zamannya dengan menanamkan pendidikan keluarga sejak usia dini, khususnya bagi perempuan.
Model pendidikan yang dikembangkan Rahmah tidak hanya menekankan aspek akademik dan keagamaan, tetapi juga keterampilan hidup, etika bertutur, serta kemampuan berpikir kritis. “Ini bukan sekadar pendidikan rumah tangga, melainkan pembentukan karakter utuh yang membekali perempuan menjadi mandiri dan berdaya,” kata Mahyeldi.
Ia bahkan membandingkan pendekatan tersebut dengan kondisi saat ini, di mana pembekalan menjelang pernikahan cenderung bersifat singkat dan seremonial. “Jika pendidikan keluarga hanya diberikan dalam hitungan jam, tentu sulit berharap lahirnya keluarga yang tangguh,” tambahnya.
Jejak keberhasilan sistem ini, lanjut Mahyeldi, dapat dilihat dari lahirnya tokoh-tokoh perempuan berpengaruh, termasuk Rasuna Said, yang dikenal sebagai sosok pejuang dengan kapasitas intelektual dan keberanian tinggi.
Sementara itu, perwakilan Kementerian Kebudayaan melalui Direktur Sarana dan Prasarana Kebudayaan, Feri Arlius, menegaskan bahwa Rahmah El Yunusiyyah merupakan pelopor penting dalam sejarah pendidikan perempuan di Indonesia. Ia menyebut pemikiran Rahmah sebagai fondasi awal bagi lahirnya kesadaran akan pentingnya akses pendidikan bagi perempuan di tengah keterbatasan masa itu.
Pemerintah, menurutnya, tengah mengkaji langkah konkret untuk memperkuat peran Diniyyah Puteri sebagai bagian dari warisan pendidikan nasional. Dukungan tersebut diharapkan mampu menjaga keberlanjutan nilai-nilai yang telah diwariskan sekaligus menyesuaikannya dengan kebutuhan zaman.
Ketua pelaksana seminar, Syaifullah, menambahkan bahwa kegiatan ini dirancang sebagai ruang dialektika antara gagasan klasik dan tantangan modern. Dengan menghadirkan pembicara dari dalam dan luar negeri, forum ini diharapkan mampu melahirkan perspektif baru dalam merumuskan sistem pendidikan yang lebih adaptif dan berakar pada nilai.
“Rahmah El Yunusiyyah telah memberi contoh bahwa pendidikan bukan hanya soal kecerdasan intelektual, tetapi juga ketahanan moral dan sosial. Itu yang ingin kita hidupkan kembali,” ujarnya.
Di tengah kompleksitas persoalan pendidikan nasional, Sumatera Barat tampaknya tengah menegaskan kembali identitasnya sebagai salah satu pusat lahirnya pemikiran pendidikan progresif, dengan keluarga sebagai titik awal perubahan.
(Sb/red)

