Padang, MP----- Momentum Hari Kebebasan Pers Sedunia menjadi pengingat penting bagi insan media untuk memperkuat peran strategisnya di tengah derasnya arus informasi digital. Ketua DPW REPRO Indonesia Kuat Provinsi Sumatera Barat, Roni, menyampaikan pesan tegas kepada jurnalis agar tidak lengah menghadapi tantangan zaman, terutama maraknya hoaks dan disinformasi yang kian masif.
Kepada wartawan di Padang, Minggu (3/5), Roni menekankan bahwa era digital telah mengubah lanskap jurnalistik secara drastis. Kecepatan informasi yang tak terbendung, menurutnya, justru menjadi pedang bermata dua: membuka akses luas bagi publik, namun sekaligus memperbesar ruang bagi penyebaran informasi palsu.
“Ini bukan sekadar momentum seremonial. Hari Kebebasan Pers harus dijadikan titik refleksi sekaligus konsolidasi moral bagi seluruh jurnalis untuk menjawab tantangan nyata di era digital. Hoaks dan disinformasi adalah ancaman serius yang bisa merusak tatanan sosial dan demokrasi,” tegas Roni.
Ia mengingatkan bahwa di tengah persaingan media yang semakin ketat, profesionalisme tidak boleh dikorbankan demi kecepatan tayang. Verifikasi, akurasi, dan keberimbangan berita harus tetap menjadi prinsip utama yang tidak bisa ditawar.
“Jurnalis harus menjadi garda terdepan dalam menjaga kebenaran. Jangan sampai media justru menjadi alat penyebar informasi yang belum terverifikasi. Integritas adalah benteng utama,” ujarnya.
Roni juga menyoroti pentingnya peningkatan kapasitas insan pers dalam menghadapi disrupsi teknologi. Menurutnya, kemampuan literasi digital, pemahaman algoritma media sosial, hingga ketahanan terhadap tekanan ekonomi industri media menjadi faktor penting yang menentukan kualitas jurnalistik ke depan.
Lebih jauh, ia mendorong adanya kolaborasi antara media, pemerintah, dan masyarakat dalam membangun ekosistem informasi yang sehat. Tanpa kerja sama yang kuat, upaya melawan hoaks dinilai akan berjalan timpang.
“Pers tidak bisa berjalan sendiri. Diperlukan sinergi semua pihak untuk menciptakan ruang informasi yang bersih, edukatif, dan mencerdaskan publik,” katanya.
Di luar pernyataan resminya, Roni dikenal sebagai sosok yang vokal dan konsisten dalam menyuarakan kritik terhadap berbagai persoalan publik. Sebagai Ketua DPW REPRO Indonesia Kuat Provinsi Sumatera Barat, ia kerap tampil dengan komentar yang keras, lugas, dan tanpa kompromi, terutama ketika menyangkut isu-isu kepentingan masyarakat dan penegakan hukum.
Karakter kritis tersebut justru membuatnya dekat dengan kalangan jurnalis. Roni dikenal terbuka terhadap media, responsif terhadap konfirmasi, serta tidak segan memberikan pandangan tajam yang kerap menjadi rujukan dalam pemberitaan. Kedekatannya dengan insan pers dibangun atas dasar saling menghargai peran, di mana ia memandang media sebagai mitra strategis dalam menjaga transparansi dan akuntabilitas publik.
Bagi Roni, kritik bukanlah bentuk perlawanan, melainkan bagian dari tanggung jawab moral untuk memastikan jalannya demokrasi tetap berada di rel yang benar. Karena itu, ia mendorong jurnalis untuk tidak takut bersikap kritis, selama tetap berpijak pada fakta dan etika jurnalistik.
Menutup pernyataannya, Roni mengajak seluruh insan pers untuk menjadikan Hari Kebebasan Pers Sedunia sebagai momentum kebangkitan profesionalisme jurnalistik, bukan sekadar perayaan tahunan.
“Jadilah jurnalis yang berani, cerdas, dan bertanggung jawab. Di tengah kebisingan informasi, pers harus menjadi cahaya yang menuntun publik pada kebenaran,” pungkasnya.
(Red)
